Portal News Day - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh China melakukan campur tangan dalam pemilihan presiden AS 2020, mengklaim bahwa negara tersebut secara ilegal mengakses data 220 juta pemilih AS. Tuduhan ini muncul dalam pidatonya di Gedung Putih pada 16 Juli 2026, di mana Trump menyatakan bahwa pemilu AS tidak dapat diandalkan.
Dalam pidatonya, Trump mengutip dokumen yang ia sebut mengungkap intervensi China dalam pemilu enam tahun lalu. Ia menekankan bahwa informasi tersebut menunjukkan bahwa anggota komunitas intelijen AS sengaja menekan data mengenai luasnya campur tangan China. Dokumen tersebut, yang diunggah di akun media sosial Truth Social miliknya, berjudul "Kerentanan dalam Infrastruktur Pemilu AS 2020" dan menyebutkan berbagai poin terkait potensi campur tangan pihak asing.
Dokumen itu menyatakan bahwa Rusia, China, Iran, dan Korea Utara memiliki kemampuan untuk mengakses dan memanipulasi data dalam sistem komputer pemilu AS. Namun, laporan intelijen AS pada tahun 2021 sebelumnya menyatakan bahwa tidak ada indikasi adanya aktor asing yang berhasil mengubah aspek teknis pemungutan suara. Trump juga berupaya menjadikan isu keamanan pemilu sebagai fokus menjelang pemilu sela AS pada November mendatang, dengan mendesak anggota Kongres dari Partai Republik untuk mengesahkan undang-undang baru terkait identifikasi pemilih dan kewarganegaraan.
Pernyataan Trump telah mendapatkan tanggapan beragam. Sejumlah tokoh Partai Republik meminta Trump untuk lebih fokus pada isu yang lebih relevan bagi rakyat, seperti biaya hidup. Sementara itu, pejabat Partai Demokrat, termasuk Senator Mark Warner, menolak tuduhan Trump, menegaskan bahwa badan intelijen setempat tidak menemukan upaya dari China untuk mengubah hasil pemilu. China sendiri mengecam tuduhan tersebut sebagai rekayasa dan fitnah. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa China tidak memiliki kepentingan dalam pemilu AS dan meminta agar Amerika Serikat menghentikan tuduhan tanpa dasar.