Tren AI Foto Bersama Idola: Hiburan atau Ancaman Privasi?
Sumber Foto: Radar Mojokerto
Hiburan

Tren AI Foto Bersama Idola: Hiburan atau Ancaman Privasi?

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di era modern yang serba digital saat ini, hampir semua hal di dunia ini dapat diwujudkan dalam satu kali klik karena teknologi yang semakin canggih.

Salah satu hal yang dapat dengan cepat diwujudkan adalah tren mengedit foto bersama idola menggunakan kecerdasan buatan atau AI.

Baru baru ini, tren tersebut sedang ramai diperbincangkan oleh hampir seluruh pengguna sosial media karena menghadirkan sensasi unik yang sebelumnya belum pernah ada.

Hanya dengan bermodalkan foto diri sendiri dan idola, pengguna bisa dengan mudah mendapatkan potret dirinya bersama idola yang tampak nyata dan realistis dalam berbagai gaya dan suasana.

Potret foto tersebut bisa didapatkan dengan cara "meminta" atau memerintah AI untuk membuat gambar seolah-olah sedang berpose bersama artis, musisi, atau tokoh terkenal kesukaan mereka.

Tren ini dengan sangat cepat tersebar luas dan diketahui banyak orang karena dianggap menyenangkan sekaligus menarik perhatian. Menawarkan sensasi "berdekatan" dengan idola yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan.

Salah satu cabang teknologi AI yang paling dikenali banyak orang adalah generative AI, suatu teknologi yang mampu menciptakan konten baru, baik berupa teks, suara, video, hingga foto berdasarkan data yang telah ia pelajari.

Dalam konteks tren yang baru baru ini ramai diperbincangkan, yakni foto bersama idola, cara kerja AI dapat dinilai cukup sederhana.

Yakni dengan memproses foto seseorang lalu menggabungkannya dengan foto idola dalam pose dan suasana tertentu.

Hanya dengan memberikan perintah atau prompt yang tepat dan jelas, AI akan menghasilkan gambar realistis yang seakan-akan benar-benar terjadi.

Tren ini mulanya lahir dari keinginan para penggemar yang merasa ingin lebih dekat dengan tokoh yang mereka kagumi dan terhalang jarak, biaya, maupun akses.

Kemajuan teknologi yang menghadirkan kecanggihan AI kemudian menjembatani keterbatasan itu dengan menciptakan momen virtual yang terlihat nyata.

Namun, dibalik kemudahan yang diberikan oleh canggihnya teknologi ini. Terdapat berbagai pendapat publik yang mulai terpecah.

Perpecahan pendapat ini menunjukkan secara nyata bahwa fenomena atau tren ini tidak sepenuhnya diterima oleh masyarakat.

Ada sebagian penggemar yang menganggap bahwa tren ini menyenangkan, wajar, dan akan sah-sah saja dilakukan dan bukan merupakan masalah besar selama editannya tidak dibuat dalam pose aneh, vulgar, dan merugikan pihak lain.

Namun, sebagian penggemar lainnya berpikir bahwa tren yang terlihat menyenangkan ini menyimpan resiko fatal di baliknya yang perlu dipertimbangkan.

Mereka berpikir bahwa kemudahan dalam mewujudkan keinginan berdekatan dengan idola dapat disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk hal-hal negatif.

Beberapa dampak buruk dan resiko dari tren ini yang pertama adalah privasi terancam. Saat seseorang mengunggah fotonya ke server AI, data pribadi dapat menjadi taruhan.

Meski hanya satu foto yang diupload, data pribadi tentang lokasi, waktu pengambilan foto, dan detail di sekeliling kita juga dapat terkirim tanpa disadari.

Informasi penting tersebut bisa disalahgunakan untuk kepentingan negatif oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Bahkan, foto wajah yang telah diunggah ke server AI dapat digunakan untuk membuat deepfake, video, ataupun foto palsu yang sangat mirip dengan pengirim dan kemungkinan besar digunakan sebagai alat modus penipuan.

Yang kedua adalah kehilangan kendali atas foto yang diunggah. Begitu foto diunggah ke server AI, secara otomatis kendali kita atas foto tersebut akan sepenuhnya hilang. Kita tidak akan tahu foto tersebut disimpan dan digunakan sebagai apa oleh server AI.

Meskipun foto tersebut sudah dihapus atau ditarik kembali, kemungkinan besar foto tersebut masih tersimpan di server mereka.

Selanjutnya, yang ketiga adalah digunakan sebagai alat pelatihan AI. Dalam beberapa sumber mengatakan, bahwa foto yang telah diunggah ke server AI kerap kali digunakan sebagai alat untuk melatih teknologi ini agar semakin pintar dan akan digunakan terus-menerus tanpa izin.

Ketiga dampak tersebut akan memicu resiko fatal yang dapat memicu kerugian reputasi dan membuat nama seseorang tercoreng.

Ada pula perdebatan mengenai etika, "apakah pantas menggunakan wajah idola tanpa izin, meski hanya digunakan sebagai hiburan?".

Perbedaan sudut pandang yang terpecah menjadi beberapa kubu inilah yang akhirnya membuat fenomena tren ini menuai perdebatan hangat.

Langkah aman agar bisa menikmati teknologi ini tanpa harus terjebak di dalam resikonya dapat dilakukan dengan beberapa hal, yakni:

Menghapus metadata dari foto sebelum diunggah

Pastikan untuk tidak mengunggah foto dengan latar belakang yang mengandung informasi pribadi

Gunakan aplikasi dari penyedia yang terbukti kredibel dan transparan

Yang terakhir adalah biasakan selalu membaca dan memahami kebijakan aplikasi sebelum menggunakannya

Fenomena tren edit AI foto bersama idola berhasil menunjukkan bukti nyata betapa teknologi canggih modern dapat mengaburkan dan menguasai batas antara kenyataan dan fantasi.

Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah terus mengikuti tren agar tidak tertinggal zaman. Tetapi juga bagaimana cara seseorang agar tetap bisa menikmati kecanggihan teknologi sambil tetap melindungi dirinya sendiri dari dampak buruknya.