Tren Absurditas Digital dan Dampaknya terhadap Generasi Muda
Sumber Foto: Kompasiana.com
Hiburan

Tren Absurditas Digital dan Dampaknya terhadap Generasi Muda

Di tengah derasnya arus digitalisasi, generasi muda yang lahir antara 2010 hingga 2025, yang kita kenal sebagai Gen Z dan Gen Alpha, tengah menghadapi tantangan baru yang tak kasatmata: serbuan konten absurd yang viral dan menghipnotis. Fenomena ini dikenal sebagai Tren Anomali, sebuah gelombang hiburan digital yang tak lagi mengandalkan logika, namun justru merayakan absurditas.

Dari Pisang Bermuka Monyet hingga Sapi Saturnus: Dunia Baru yang Tak Masuk Akal

Bayangkan seekor monyet bermuka sendu yang muncul dari dalam pisang, atau sapi dengan tubuh menyerupai planet Saturnus yang menari di festival bernama "Tung Tung Tung Sahur". Konten seperti ini bukan hanya nyata, tapi juga digemari. Mereka menyebar cepat di TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts, dan menjadi bagian dari tren yang disebut brainrot---istilah populer yang bahkan dinobatkan sebagai Word of the Year 2024 oleh Oxford University Press.

Brain Rot: Ketika Otak Lelah oleh Hiburan Kosong

Meski bukan istilah medis, brainrot menggambarkan kondisi menurunnya kemampuan berpikir kritis, empati, dan fokus akibat konsumsi konten ringan yang berulang-ulang. Anak - anak dan remaja kini lebih mudah tertawa oleh hal-hal yang tak bermakna, namun kesulitan merespons tragedi kemanusiaan dengan empati yang tulus.

Psikolog anak dan remaja dari Universitas Indonesia, Dr. Aulia Rahmadani, bahkan mempertanyakan, "Kalau semua hal dianggap meme, bagaimana mereka bisa merespons tragedi kemanusiaan dengan empati yang tulus?"

Konten Viral Tak Lagi Soal Makna, Tapi Seberapa Cepat Ia Menarik Perhatian

Perubahan besar terjadi di dunia konten digital. Dari yang semula edukatif dan informatif, kini bergeser ke arah yang absurd dan nihilistik. Kreator konten tak lagi mengejar nilai, tapi seberapa cepat video mereka bisa viral. Bahkan, konten yang mengandung kekerasan, kebencian, atau sekadar suara AI menyanyikan lagu anak-anak dengan nada menyeramkan pun bisa jadi primadona.

Dari pengamatan langsung, banyak anak usia 10 hingga 20 tahun kini mampu menatap layar selama berjam-jam tanpa jeda. Aktivitas penting seperti makan dan minum dilakukan sambil tetap menggenggam gawai. Konten informatif? Seringkali diskip begitu saja.

Studi dari American Psychological Association memperkuat kekhawatiran ini: konsumsi konten cepat secara berlebihan menurunkan rentang atensi dan kemampuan menyusun narasi logis. Anak-anak menjadi lebih reaktif, mudah terdistraksi, dan kehilangan kemampuan membedakan antara hiburan dan informasi faktual.