Tantangan Aksesibilitas Transportasi bagi Difabel Menuju Destinasi Wisata di Yogyakarta
Barokah biasanya menaiki bus jalur 15, yang rutenya dari Terminal Palbapang sampai titik terakhir Terminal Ngabean yang berada di kawasan Taman Parkir Ngabean, Kota Yogyakarta. Bus rute ini melewati titik strategis, termasuk Koridor Halte Malioboro 1, Malioboro 2, dan Malioboro 3 yang menjadi akses terdekat menuju pusat keramaian wisata.
Dia hanya membutuhkan sekitar 40 menit dari daerah tempat tinggalnya menuju ke Malioboro. Namun, waktu tempuh bisa lebih lama, tergantung situasi lalu lintas saat itu. “Saya lebih sering menggunakan jalur ini untuk pulang, saat waktu yang ada masih longgar,” ujar dia, saat dihubungi Solidernews, 15 Januari 2026.
Namun, untuk bisa mengakses Trans Jogja, Barokah harus menempuh jarak sekitar satu kilometer untuk mencapai halte terdekat dari kost tempat tinggalnya, yang berada di dekat kampus ISI. Tentu jarak ini tidak mudah bagi difabel yang bepergian tanpa pendamping, terutama bagi difabel fisik yang menggunakan kursi roda dalam bermobilitas.
“Layanannya bisa dibilang mudah di akses, tapi belum sepenuhnya ramah bagi difabel yang bepergian mandiri, seperti yang menggunakan kursi roda,” ujar Barokah, yang juga seniman teater dan kerap mentas di Taman Budaya Yogyakarta.
Menyoal Aksesibilitas Layanan Transportasi Publik
Salah satu instrumen penting yang mendukung difabel untuk bepergian secara mandiri adalah ketersediaan aksesibilitas fisik di ruang publik, seperti jalur pemandu (guiding block), bidang miring (ramp), serta berbagai fasilitas penunjang lainnya. Keberadaan elemen-elemen ini menjadi kunci dalam membangun pariwisata yang ramah bagi keragaman pengunjung.
Staf SIGAB Indonesia, Kuni Fatonah, 52 tahun, mengatakan aksesibilitas di ruang publik merupakan akomodasi penting bagi difabel untuk dapat bergerak mandiri. Namun, layanan Trans Jogja sendiri belum sepenuhnya seragam dalam hal kemudahan akses.
Perempuan pengguna kursi roda ini menjelaskan ada armada yang lantainya sejajar dengan bibir halte sehingga kursi roda dapat masuk tanpa hambatan. Namun, masih ada pula bus yang mengharuskan penumpang naik dari pintu depan dengan tangga berundak, dan harus melalui jalur bawah sejajar dengan trotoar. “Kalau yang lewat bawah itu saya tidak bisa masuk beserta kursi roda. Jadi memang tidak semua bus itu desainnya seragam,” kata Kuni kepada Solidernews, 22 Januari 2026.
Saat menjajal menaiki Trans Jogja dari Halte selatan Monjali, Kuni bertemu dengan banyak penumpang difabel. Di sepanjang perjalanan, perhatiannya tertuju pada halte dan pemberhentian bus yang tidak semua ramah bagi difabel. Ia melihat ada halte dengan bidang miring terpasang terlalu curam, tak ada petugas yang berjaga di halte atau pemberhentian bus yang hanya papan nama. “Ini berisiko bagi difabel yang ingin berpergian mandiri. Padahal difabel juga banyak yang menggunakan moda transportasi ini,” ujar dia.
Konektivitas Aksesibilitas Menuju Destinasi Wisata
Konektivitas menuju destinasi wisata juga masih menjadi keluhan karena belum ramah bagi difabel. Barokah menuturkan, di sekitar halte kawasan Taman Pintar menuju Taman Budaya Yogya, belum terkoneksi dengan baik. Padahal, difabel netra seperti dia, sangat membutuhkan aksesibilitas publik, seperti jalur pemandu.
Ia menjelaskan, di sana terdapat jalur pemandu tetapi terputus sebelum mencapai area destinasi. Jalur itu hanya berada di pedestrian luar kawasan wisata dan tidak tersambung sampai pintu masuk, sehingga belum sepenuhnya mendukung mobilitas difabel netra secara mandiri. Ketika menghadapi situasi itu, mereka membutuhkan bantuan orang lain. “Solusinya kami meminta bantuan petugas halte untuk mengarahkan ke tujuan. Misal, di Taman Budaya Yogyakarta, ya kadang kami minta untuk diseberangkan,” kata dia.
Lebih lanjut, Barokah menuturkan masih menjumpai jalur pemandu yang mengarah ke tiang atau tujuan yang tidak jelas. Karena itu, ia harus meminta tolong kepada orang-orang di sekelilingnya saat menyusuri area Malioboro dan sekitarnya. “Makanya saya lebih sering mengajak kawan untuk mendampingi, atau memang kebetulan ada kegiatan bareng,” ujar dia, melanjutkan.
Lukman Yoga Suryawan, Analis Rencana Program dan Kegiatan Taman Pintar, menjelaskan penyebab jalur pemandu di Taman Pintar terputus dengan pedestrian luar pagar karena pengelolanya berbeda. Pihaknya, kata dia, hanya berwenang mengelola jalur pemandu yang ada di dalam pagar destinasi wisata. “Kalau kaitanya dengan guiding block yang terputus, itu disebabkan oleh perbedaan hak pengelolaan pedestrian. Karena itu, kami hanya mengelola guiding block di dalam pagar saja,” kata Lukman kepada Solidernews saat ditemui pada 13 Januari 2026.
Dari Stasiun Menuju Pedestrian
Pengalaman berbeda didapat Kuni ketika berada di Stasiun Yogyakarta atau Stasiun Tugu. Ia menuturkan, di beberapa titik sudah menunjukkan adanya aksesibilitas. Akan tetapi tetap ada tantangan yang harus dihadapi difabel pengguna kursi roda saat berjalan keluar dari stasiun ke pedestrian. “Di beberapa bidang miring kondisinya masih curam saat pakai kursi roda. Sehingga masih berisiko bagi pengguna kursi roda seperti saya yang bepergian mandiri,” kata Kuni.
Karena kondisinya seperti itu, Kuni lebih sering menggunakan jasa porter untuk membantunya. Sebab, petugas tidak selalu bisa memberikan bantuan karena mereka sedang berjaga atau menjalankan tugas yang tak bisa ditinggalkan. “Ya, lebih memilih untuk pakai jasa porter dan membayar supaya saya lebih cepat untuk bergerak,” ucap dia.




