Tantangan Aksesibilitas bagi Pengunjung Difabel di Museum Sonobudoyo
Sumber Foto: Teras.id
Sosial

Tantangan Aksesibilitas bagi Pengunjung Difabel di Museum Sonobudoyo

Absennya jalur pemandu ini menjadi kendala tersendiri bagi pengunjung difabel netra, pasalnya orientasi kemandirian menjadi mustahil tanpa bantuan pendamping. “Aku tidak menemukan guiding block yang berada di pelataran museum. Apalagi saat itu sedang hujan. Jadi, posisi hujan dan ketiadaan guiding block cukup membingungkan ketika tidak ada pendamping,” kata Nur Jamal, kepada Solidernews, 28 Januari 2026.

Sementara itu, untuk pengguna kursi roda masih perlu upaya ekstra untuk masuk ke dalam gedung Thomas Karsten yang menjadi pintu masuk utama Museum Sonobudoyo, karena belum dilengkapi bidang miring (ramp). Kontras ini menyisakan pertanyaan mendasar, bagaimana komitmen Museum Sonobudoyo untuk memastikan setiap koleksi sejarah dan budaya yang ada dapat dinikmati oleh semua orang tanpa hambatan fisik ataupun informasi.

Pengalaman Difabel Berkunjung ke Museum Sonobudoyo

Alif Akbar, 24 tahun, mahasiswa difabel netra Universitas PGRI Yogyakarta, mengatakan aksesibilitas untuk difabel netra masih sangat terbatas di Museum Sonobudoyo. Karena itu, pendamping sangat berperan penting ketika ingin berkunjung ke sana.

Ia menuturkan kondisi yang ditemukan saat berkunjung ke museum tersebut pada September 2025. “Kurang aksesibel karena tidak ada jalur khusus atau tanda huruf braille untuk difabel netra. Mungkin karena waktu itu aku datang bareng temanku, jadi tidak ada yang membantu dari mulai pembelian tiket hingga pintu masuk,” ujarnya kepada Solidernews, pada 14 Januari 2026.

Hal itu berbeda dengan pengalaman Nur Jamal, 24 tahun, mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia mengungkapkan pengalamannya saat berkunjung ke sana pada 28 Januari 2026. Dia mengaku mendapatkan pelayanan bagus dari satpam yang sedang bertugas.

Begitu Nur Jamal sampai di gerbang pintu masuk, satpam menghampiri dan memberi petunjuk arah menuju ke tempat pembelian tiket. Usai membeli tiket, dia diarahkan untuk melewati pintu masuk. Setelah masuk, dia kemudian berkeliling. Begitu sampai di Gedung Thomas Karsten, ia mendapati koleksi yang ada di bagian ini belum bisa dinikmati sepenuhnya secara mandiri.

Secara keseluruhan, kata dia, kalau untuk netra mayoritas belum akses. Untuk fasilitas difabel netra hanya ada huruf braille, itupun terbatas dan berada di luar gedung sebelum pintu masuk, tepatnya di taman arca yang terletak di sebelah Timur Gedung Thomas Karsten. Di sana terdapat teks informasi huruf braille sebagai informasi arca-arca yang ada di sana.

Kemudian dari Gedung Thomas Karsten menuju gedung baru sampai lantai enam, Nur Jamal mengatakan bahwa ia tidak menemukan alternatif karya yang bisa disentuh dan semuanya sangat mengandalkan adanya pendamping. “Peran pendamping sangat krusial bagi teman netra, karena teks braillenya hanya di zona arca lantas untuk teknologi audio deskripsi dan sebagainya ada tapi terfokus pada beberapa karya untuk umum. Selebihnya sangat-sangat visual, jadi perlu dijelaskan oleh pendamping,” ucap dia.

Hal serupa juga dirasakan oleh Alif, ia mengatakan bahwa tidak mengetahui keberadaan karya-karya yang bisa diraba. “Untuk koleksi yang bisa diraba, aku kurang tahu karena kami hanya di lantai satu dan tiga itupun hanya melihat koleksi yang ada pembatas kacanya. Kami juga tidak bertanya ke petugasnya mengenai koleksi yang bisa diraba,” tutur dia.

Pelayanan Pengunjung Difabel di Museum Sonobudoyo

Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, terus berupaya membuka ruang yang lebih inklusif bagi pengunjung difabel. Meski hingga kini belum memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus bagi pengunjung difabel dan masih menginduk pada SOP pengunjung umum, pengelola museum mengklaim telah memberikan prioritas pelayanan bagi pengunjung difabel, terutama mereka yang melakukan kunjungan terencana.

Pemandu Museum Sonobudoyo, Saptiwi Ratnawati, 50 tahun, mengungkapkan bahwa banyak pengunjung difabel yang datang ke museum ini. Sebagian besar adalah pengguna kursi roda dan beberapa difabel Tuli, difabel netra masih jarang. Bahkan, seringnya adalah kunjungan dari Sekolah Luar Biasa (SLB). “Apabila akan melakukan kunjungan, mereka selalu berkontak terlebih dahulu,” kata Tiwi, saat di jumpai Solidernews, 28 Januari 2026.

Edukator Museum Sonobudoyo, Ridho Wicaksono, mengungkapkan pengunjung Museum Sonobudoyo Unit 1 pada tahun 2025 terdapat 289.774 pengunjung dewasa, 180.153 pengunjung anak-anak, dan 16.136 pengunjung mancanegara. Namun, pihak museum tak memiliki catatan pasti mengenai jumlah pengunjung difabel. Sebab, semua pengunjung dipandang sama. Meski begitu, pengelola akan memberikan prioritas kepada mereka yang sudah berkontak lebih dahulu sebelum berkunjung.

“Di lihat dari pola kunjungan selama ini, rekan-rekan difabel selalu berkontak terlebih dahulu dengan kami sebelum mengadakan kunjungan," kata Ridho kepada Solidernews saat ditemui pada 26 Januari 2026.

Setelah dihubungi, pihak museum akan mengaturnya sesuai waktu dan sejumlah pemandu sesuai request. "Apabila ada keterbatasan pemandu, kami akan sampaikan bahwa di waktu tersebut kami hanya bisa memfasilitasi satu orang dulu,” kata Ridho.

Namun, dalam praktiknya, sesuai yang diceritakan Nur Jamal pada Solidernews. Ia menyebutkan sebelumnya sudah berkontak dengan pihak Museum Sonobudoyo via Whatsapp, akan tetapi tidak mendapatkan respons. “Kami sudah mengikuti prosedur untuk menghubungi hotline untuk mendapatkan guide, tapi tidak di respons dan ketika sampai lokasi ternyata guidenya sedang ada tugas reservasi pendampingan dari tamu yang katanya berjumlah ratusan. Akhirnya kami berkeliling sendiri,” ujar dia, 28 Januari 2026.

“Nah ini menjadi catatan karena untuk teman pendamping sendiri meskipun bisa membacakan caption tetapi untuk konteks pemahaman terhadap instalasi karya museumnya tidak maksimal seperti guide,” ujar dia, menambahkan.

Menanggapi hal itu, Tiwi selaku pemandu Museum Sonobudoyo menyebutkan solusi dengan terbatasnya pemandu yaitu meminta pengunjung untuk menunggu. “Biasanya kami minta tamu untuk menunggu sampai kita selesai memandu. Misal kita setengah jam lagi selesai, nah itu kita bilang ke tamunya bersedia atau tidak untuk menunggu setengah jam begitu,” ucap dia, 28 Januari 2026.

Transliterasi Caption Jadi Huruf Braille sudah Pernah Dilakukan

Pengelola Museum Sonobudoyo sudah melaksanakan transliterasi caption menjadi huruf braille pada 2021/2022. Pada tahun yang sama juga menginisiasi mengenai koleksi-koleksi yang boleh disentuh oleh difabel netra dan pihak pengelola akan menyediakan sarung tangan.

“Koleksi yang boleh disentuh ini adanya di taman arca yaitu di sisi Barat dan Timur dari Gedung Thomas Karsten. Kalau untuk karya lain masih belum bisa disentuh. Mengenai transliterasi caption menjadi braille juga masih sebatas di taman arca,” ucap Ridho.

Sistem barcode sebelumnya juga sudah pernah diadakan. Namun, dinilai kurang efektif, sehingga pihak kepala Museum Sonobudoyo menghendaki untuk tidak dilanjutkan lagi. “Untuk barcode kami sudah pernah menginisiasi tapi respon pengunjung adalah kurang optimal karena jaringan wifi atau sinyal internet di dalam museum tidak cukup baik, terlebih apabila banyak pengunjung. Evaluasi penggunaan barcode itu, bapak kepala museum menghimbau untuk tidak dilanjut lagi,” kata Ridho.

Selain itu, pihak museum juga melakukan edukasi kepada para pemandu sebagai upaya untuk mengatasi kondisi yang mereka hadapi. Tiwi mengungkapkan bahwa dulu pernah ada aplikasi bernama smart guide. Pengunjung hanya perlu menginstall aplikasinya, kemudian penggunaannya diarahkan ke koleksi yang ada di Museum Sonobudoyo nanti akan muncul informasi audio dalam berbagai bahasa. “Hanya saja itu tidak ada yang mau menginstall. Akhirnya aplikasinya sekarang sudah tidak ada,” ucap dia.

Fasilitas Fisik yang telah Tersedia bagi Pengunjung Difabel

Gedung Thomas Karsten dan gedung baru sudah memiliki fasilitas fisik untuk pengguna kursi roda yang baik. Di dalam museum sudah terdapat ramp atau jalur landai. Museum Sonobudoyo juga menyediakan dua kursi roda untuk pengunjung yang memerlukan. Secara konsep ruang juga sudah didesain aksesibel. Hal itu terlihat dari luasnya jarak antara satu koleksi ke koleksi lainnya. Akses naik turun di gedung baru juga bisa menggunakan lift. Selain itu juga terdapat toilet khusus difabel.

“Toilet yang ada di Museum Sonobudoyo bisa mengakomodasi teman-teman difabel. Letaknya di setiap lantai di Gedung baru ada, di sisi barat Gedung Thomas Karsten ada, di sisi Gedung Semar yang biasa digunakan untuk pertunjukan wayang juga ada,” kata Ridho.

Di balik ketersediaan akses fisik untuk pengunjung difabel, satu hal yang menjadi catatan adalah akses tangga di gedung baru, yakni mengenai kondisi tangga, seperti diungkapkan Nur Jamal. “Saya kemarin mencoba mengakses tangga, tapaknya lebih kecil. Jadi kurang nyaman bagi kaki saya, dan untuk teman netra jedanya kurang panjang tangganya,” ujar dia.

Anggaran dan Rencana Pengembangan Fasilitas Difabel

Upaya pengembangan museum yang lebih ramah difabel juga pernah dilakukan melalui kolaborasi dengan komunitas difabel. Koordinasi terakhir yang dilakukan pada tahun 2024/2025 melalui even pameran temporer AMEX di gedung pamer temporer. Sedangkan untuk gedung baru masih sebatas kunjungan regular saja.

Ke depannya, pihak Museum Sonobudoyo juga ingin mengembangkan kemampuan SDM yang ada di sana, khususnya pemandu untuk melakukan pelatihan bahasa isyarat. “Maka harapan kami di tahun-tahun mendatang untuk kegiatan sertifikasi itu bisa dilakukan tentunya dengan mengambil anggaran,” kata Ridho.

Terkait anggaran, Ridho mengatakan bahwa selama ini pihak pengelola Museum Sonobudoyo, dalam pemeliharaan sarana dan prasarana difabel dilakukan secara mandiri. Karena memiliki personel untuk memperbaikinya dan hal ini tidak memerlukan alokasi anggaran.