Tantangan Akses Al-Qur'an Braille bagi Difabel Netra di Indonesia
Sosial

Tantangan Akses Al-Qur'an Braille bagi Difabel Netra di Indonesia

Portal News Day - Pemerataan Mushaf Al-Qur'an Braille bagi difabel netra terkendala dengan berbagai tantangan. Mulai dari ongkos produksi yang tinggi hingga ketersediaan guru spesialis bagi difabel netra yang ingin belajar membaca A-Qur'an Braille.

Ringkasan berita

Satu set lengkap Al-Qur’an Braille memiliki berat hingga 30 kilogram dan harga mencapai Rp 3,4 juta.

Sedikit pengajar spesialis bagi difabel netra yang mau belajar membaca Al-Quran Braille.

Sejumlah faktor masih menjadi kendala dalam pemerataan Al-Qur'an Braille bagi difabel netra.

M EMBACA AL-QUR’AN merupakan aktivitas yang biasa dilakukan selama Ramadan, membuka mushaf, menelusuri baris demi baris ayat, lalu melafalkannya. Namun, pengalaman tersebut menjadi berbeda bagi difabel netra seperti Misbahul arifin. Untuk dapat membaca ayat-ayat suci, pria berusia 28 tahun itu membutuhkan mushaf khusus dengan huruf braille, titik-titik timbul yang hanya bisa dibaca melalui sentuhan jari.

Bagi orang awas, lembaran mushaf braille tampak seperti deretan pola tak beraturan. Namun bagi difabel netra, titik-titik timbul tersebut adalah huruf, kata, dan ayat suci yang memberinya informasi. Misbah menuturkan cara membaca ayat demi ayat itu dilakukan dengan meraba satu per satu secara teliti. “Prosesnya lebih lambat dibanding membaca Al-Qur’an biasa, tetapi justru menghadirkan kedalaman yang berbeda karena mungkin proses diraba itu ya,” kata dia melanjutkan.

Al-Qur’an Braille, kata Misbah, menjadi sarana penting bagi difabel netra untuk mempelajari nilai-nilai di dalamnya. Namun, dia menyayangkan akses terhadap mushaf ini masih terbatas. Faktor penyebabnya, yakni harga produksi yang tinggi, distribusi yang belum merata, serta minimnya guru yang mampu mengajarkan bagaimana membacanya.

“Masih banyak teman-teman netra di berbagai daerah yang belum pernah memegang Al-Qur’an Braille. Mereka ingin belajar mengaji, tetapi aksesnya belum merata,” kata Misbah, yang saat ini sedang menempuh program studi ilmu doktor pendidikan di Universitas Negeri Solo

Berdasarkan data BPS tahun 2024, di Indonesia, sekitar 17,8 juta hingga 22,97 juta adalah difabel, atau mencakup sekitar 8,5 persen dari total populasi nasional. Di tingkat regional, merujuk pada Aplikasi Dataku DIY dan data BPS periode 2024-2025, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat ada 26.502 penyandang disabilitas. Dari jumlah tersebut, terdapat sedikitnya 1.712 difabel netra yang tersebar di Yogyakarta.

Sementara itu, berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama, hingga Januari 2026, terdapat lebih dari 6.800 unit masjid dan musala yang tersebar di seluruh wilayah DIY. Angka tersebut menunjukkan potensi besar sekaligus tantangan bagi pengelola rumah ibadah untuk menyediakan fasilitas ramah difabel, termasuk penyediaan Al-Qur'an Braille.

Pengalaman Memproduksi Al-Qur'an Braille

Di salah satu sudut ruang kantor Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia, Ali Afandi sedang mendengarkan suara yang keluar dari pembaca layar monitor komputernya. Siang itu, dia sedang mengonversi file pesanan klien untuk dicetak menjadi versi braille. “Kebetulan lagi ada pesanan dari pelanggan,” kata pria berusia 43 tahun itu kepada Solidernews, 12 Maret 2026.

Terdapat tumpukan kertas yang menjadi bahan cetak braille di ruanga itu. Di atas tumpukan kertas, terdapat satu set 1-30 Juz Al-Qur'an Braille yang sudah dicetak untuk keperluan dami. Ali menyiapkan itu jika ada klien yang ingin melihat hasil pencetakan Al-Qur'an Braille.

Ia menceritakan bagaimana awal mula Al-Qur'an Braille di Indonesia. Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG) mulai merintis adaptasi sistem tulisan braille ke dalam huruf Arab di Kota Bandung pada 1954. Selanjutnya, momentum besar terjadi sepuluh tahun kemudian. Saat itu, ada tokoh netra asal Bandung, El-Hadidi, berhasil menyusun sistem penulisan yang sistematis.

Inovasi tersebut kemudian disempurnakan melalui Konferensi Internasional tentang Ortografi Braille Arab di Jeddah pada tahun 1977, yang menjadi fondasi standar penulisan Al-Qur'an Braille di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Pada dekade 1980-an, pemerintah mulai memberikan perhatian serius. Melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) Kementerian Agama, standar penulisan Al-Qur'an Braille Indonesia secara resmi dibakukan. Pada mulanya produksi dilakukan secara manual menggunakan mesin ketik braille atau dipaku satu per satu (reglet), mulai beralih ke mesin cetak komputerisasi pada akhir 1990-an.

Meski teknologi berkembang, Ali mengungkapkan, masih ada tantangan yang harus dihadapi dalam proses produksinya adalah satu set lengkap Al-Qur'an Braille terdiri dari 30 jilid besar dengan berat mencapai 20-30 kilogram. Hal itu yang membuatnya menjadi barang mewah sekaligus sulit dimobilisasi untuk difabel netra. “Bahkan satu set lengkap bisa setinggi pinggang orang dewasa, sehingga sulit untuk dibawa bermobilitas,” ujar difabel kelahiran Bandung itu.

Mahalnya biaya produksi dan aksesibilitas fisik jadi tantangan pemerataan Al-Qur'an Braille. Penggunaan kertas khusus yang tebal dan ukuran fisik yang sangat masif, membuat harganya mahal. Berdasarkan pantauan Solidernews, harga di pasar per Januari 2026 melalui e-commerce, satu set lengkap Al-Qur’an Braille yang terdiri dari 30 jilid besar mencapai Rp 1,6 juta hingga Rp3,4 juta, sangat kontras dengan mushaf standar yang hanya dibanderol puluhan ribu rupiah.

Salah satu mesin cetak braille yang ada di kantor SIGAB Indonesia. Foto diakses pada 7 Januari 2026. (Dok. Solidernews/Rob Andi)

Ketua Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) itu menambahkan, tantangan lain yang dihadapi yakni keterbatasan jumlah pengajar mushaf Al-Qur'an Braille. Merujuk data yang dihimpun ITMI, sekitar 80 persen atau sekitar 1,6 juta netra belum bisa membaca braille. “Kalau merujuk data lama ITMI Pusat, kebutuhan Al-Qur’an Braille di Indonesia baru menyentuh angka sekitar 1-2 persen dari total estimasi kebutuhan 5 juta set. Masih jauh,” kata dia, menambahkan.

Lembaga lain yang memiliki layanan percetakan braille adalah Yayasan Al-Hikmah di Umbulharjo, kota Yogyakarta. Mereka mencetak mushaf Braille dengan dukungan pihak swasta.

Ketua Yayasan Al-Hikmah Widodo Sulis, sependapat dengan Ali. Menurut dia, biaya produksi yang tinggi menjadi tantangan dalam pemerataan akses Al-Qur'an Braille. Mahalnya Al-Qur'an ini bukan semata karena harga kertas khusus untuk membuatnya. Tetapi, harga mesin cetak braille atau embosser yang berkisar antara puluhan hingga ratusan juta rupiah, tergantung pada kecepatan dan fiturnya, menjadi faktor lain yang menjadi penyebabnya.

Widodo menambahkan, mesin cetak braille memang ada model portable atau manual dengan harga lebih murah, di bawah Rp 20 juta, dan itu bisa jadi opsi. Jauh dibandingkan dengan mesin produksi modern yang mencapai lebih dari Rp 100 juta. “Mesin cetak dengan fitur tambahan bahkan dapat melebihi angka tersebut,” kata pria 51 tahun menjelaskan.

You can share this post!