Semangat Gembong: Nelayan Difabel Berjuang di Tengah Ombak Kehidupan
Sosial

Semangat Gembong: Nelayan Difabel Berjuang di Tengah Ombak Kehidupan

Portal News Day - JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap matahari mulai terbit, seorang nelayan bernama Andi (41), yang akrab disapa Gembong, segera bergegas menuju perahu kayunya yang bersandar di Kolam Retensi Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.

Selama 21 tahun terakhir, Gembong telah membiasakan diri melaut hanya dengan satu kaki setelah mengalami kecelakaan saat bekerja memotong besi kapal karam di Perairan Marunda, Jakarta Utara.

Saat itu, kaki kanan Gembong terkena sling baja sehingga terpaksa harus diamputasi.

Meski kehilangan satu kaki, semangatnya untuk menghidupi keluarga tak pernah surut.

Setiap hari, Gembong menyusuri Teluk Jakarta hingga perairan Kabupaten Bekasi untuk mencari hasil tangkapan secara manual.

Gol dari Langit yang Mengubur Mimpi Terpanjang Ronaldo

Artikel Kompas.id

Saat berada di tengah laut, ia harus berenang dengan satu kaki untuk mencari ikan dan kerang hijau.

"Awalnya tidak mudah, tapi saya tidak menyerah. Saya menyero (mencari kerang) menggunakan perahu kecil tanpa menggunakan tongkat atau kaki palsu," tutur Gembong saat ditemui di kawasan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (6/7/2026).

Keluarga Jadi Penyemangat

Gembong mengaku, salah satu alasan yang membuatnya mampu bertahan hingga kini adalah keluarganya.

Saat mengalami kecelakaan pada 2005, ia hanya membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk memulihkan kondisi fisik dan mentalnya.

Sebab, ketika itu Gembong harus menghidupi istri dan seorang anak yang masih kecil. Di sisi lain, ia merasa tidak memiliki keahlian selain menjadi nelayan.

Pilihannya saat itu hanya satu, kembali melaut dengan satu kaki atau membiarkan keluarganya kehilangan sumber penghidupan.

Merasa bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, Gembong mulai membiasakan diri kembali melaut meski dalam keterbatasan.

Seiring waktu, ia semakin terbiasa menjalani pekerjaannya hanya dengan satu kaki.

Berkat kegigihannya, hingga kini Gembong mampu menghidupi istri dan keempat anaknya.

Putra sulungnya kini telah mulai bekerja meski masih serabutan. Namun, penghasilan tersebut sedikit banyak membantu perekonomian keluarga.

Pendapatan Tak Menentu

Menggantungkan hidup sebagai nelayan tentu bukan perkara mudah dan penuh tantangan.

"Susahnya kalau sedang musim angin barat. Ombak besar membuat kami tidak bisa ke laut," ucap Gembong.

Saat cuaca tidak menentu, ia tidak bisa menyelam karena kondisi laut berbahaya.

You can share this post!