Rumah Penuh Sampah Terjual Seharga Rp 21,5 Miliar di Queensland
Sumber Foto: detikcom
Lifestyle

Rumah Penuh Sampah Terjual Seharga Rp 21,5 Miliar di Queensland

Jakarta -

Ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan saat membeli rumah second. Tidak hanya soal lokasi yang strategis atau bebas banjir, tapi perhatikan juga kondisi rumah tersebut.

Pada umumnya, harga rumah second dapat dipengaruhi oleh kelayakannya, apakah masih dalam kondisi baik atau ditemukan sejumlah kerusakan. Menariknya, rumah second yang satu ini jadi incaran banyak pembeli padahal kondisinya sangat miris.

Bagaimana tidak, bagian dalam rumah tersebut dipenuhi oleh sampah, barang bekas, dan kotoran hewan. Meski sudah tak layak huni, tapi rumah itu laku keras hingga terjual puluhan miliar rupiah.

Rumah tersebut berada di Brookfield, Queensland, Australia. Rumah dengan empat tidur itu dibangun di atas lahan seluas 10.000 meter persegi di 77 Nioka Street, sekitar pinggiran kota Brisbane.

Tak hanya bagian dalam saja yang kotor, halaman rumahnya juga sangat berantakan karena tak pernah dirawat. Ditemukan ada banyak sisa-sisa barang yang sudah rusak dan sengaja dibuang di belakang rumah.

Karena tak terurus selama bertahun-tahun, rumah itu justru lebih mirip seperti gubuk di tengah hutan daripada tempat tinggal akibat halamannya dipenuhi pohon dan tumbuhan liar.

Meski rumah tersebut kondisinya sangat memprihatinkan bak kapal pecah, tapi ternyata banyak yang tertarik untuk membelinya. Wow!

Dilansir situs Domain Australia, Rabu (18/2/2026), rumah tersebut dijual secara lelang pada 10 Februari 2026. Pihak yang melelang rumah itu adalah Queensland Public Trustee.

Saat rumah tersebut masuk daftar lelang, total ada 40 peserta yang mendaftar. Sekitar 130 orang turut hadir dalam acara lelang yang berlangsung selama 25 menit.

Penawaran dimulai dari angka US$ 800 ribu atau sekitar 13,4 miliar (kurs Rp 16.800). Tak butuh waktu lama, angka penawarannya naik menjadi US$ 1 juta atau sekitar Rp 16,8 miliar.

Sejumlah penawar kembali menaikkan penawaran di angka kecil, sampai akhirnya ada yang berani menaikkan penawaran hingga menyentuh angka US$ 1,2 juta.

"Saat harga mencapai US$ 1,2 juta, hanya tersisa dua dari penawar awal. Kemudian beberapa penawar langsung mengajukan angka penawaran sebesar US$ 1,27 juta," kata Kepala Juru Lelang Paul Gaffney.

Tidak butuh lama, penawar lainnya menaikkan tawaran di angka US$ 1,28 juta. Angka tersebut jadi yang paling tinggi dalam lelang dan akhirnya diketok palu oleh juri, sehingga rumah berantakan penuh sampah itu laku sebesar Rp 21,5 miliar.

"Ada satu penawaran tandingan sebesar US$ 1,28 juta dan itu menjadi miliknya," ujar Gaffney.

Sayangnya, semua penawar yang ikut dalam lelang tidak boleh masuk ke dalam rumah untuk melihat kondisinya. Sebab, ada beberapa barang yang sudah sangat kotor dan dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan. Alhasil, lelang dilakukan di pinggir jalan tepat di depan rumah tersebut.

Meski pada akhirnya rumah itu laku terjual sampai puluhan miliar rupiah, tetapi sang pemilik baru harus kerja keras untuk membuang semua sampah. Belum lagi proses renovasi yang bisa menelan biaya besar karena kondisi rumah sudah memprihatinkan.

"Para penawar tampaknya merupakan campuran dari penduduk lokal yang sudah mengenal daerah itu dengan baik dan keluarga yang ingin pindah ke Brookfield, serta beberapa pengembang dan investor yang mungkin berpikir itu akan menjadi peluang menarik jika bisa mendapatkannya dengan harga tepat," pungkas Gaffney.