Ratusan Difabel Bandung Berpartisipasi dalam Tadarus Al-Qur'an di Festival Ramadan Inklusif 2026
Sumber Foto: Kabar Kuningan
Sosial

Ratusan Difabel Bandung Berpartisipasi dalam Tadarus Al-Qur'an di Festival Ramadan Inklusif 2026

Portal News Day - KABAR KUNINGAN (BANDUNG) - Suasana hangat dan penuh khidmat menyelimuti area Trans Studio Mall Bandung pada Sabtu, 14 Maret 2026. Sebanyak 100 penyandang disabilitas berkumpul untuk melantunkan ayat suci Al-Qur'an dalam gelaran Festival Ramadan Inklusif 2026. Mengusung tema besar "Ramadhan untuk Semua: Berbagi, Berdaya, dan Bermakna", acara ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih keberkahan di bulan suci.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, hadir langsung untuk memberikan dukungan moral kepada para peserta. Baginya, kehadiran para penyandang disabilitas dalam kegiatan tilawah dan tausiah ini adalah simbol perjuangan hidup yang luar biasa di jantung Kota Bandung.

Dalam sambutannya, Farhan menegaskan bahwa keberhasilan sejati tidak pernah dicapai dengan cara yang instan. Ia melihat semangat para peserta sebagai pengingat bagi seluruh warga kota bahwa setiap pencapaian membutuhkan kerja keras. "Semua yang berkumpul hari ini adalah mereka yang memahami bahwa dalam kehidupan tidak ada yang mudah dicapai. Anda semua adalah simbol perjuangan yang hadir di tengah kita," ujar Farhan dengan penuh apresiasi.

Kepedulian Muhammad Farhan terhadap kelompok disabilitas ternyata memiliki akar yang kuat. Ia mengenang masa tugasnya bersama anggota DPR RI, Ledia Hanifa, saat melakukan riset kolaboratif dengan parlemen Jepang pada Maret 2023 lalu. Fokus riset tersebut adalah memperkuat payung hukum terkait inklusivitas, terutama akses pendidikan dan lapangan kerja bagi disabilitas mental.

Kini, sebagai Wali Kota, Farhan merasa bersyukur melihat gagasan inklusivitas tersebut mulai terwujud di Kota Bandung. Meski diakuinya belum sempurna, ketidaksempurnaan itulah yang menjadi pemacu bagi pemerintah untuk terus melakukan perbaikan layanan publik yang lebih ramah disabilitas.

Selain aspek regulasi, Farhan juga menyoroti pentingnya peran komunitas seperti Bandung Independent Living Center. Komunitas ini dinilai sukses membantu penyandang disabilitas untuk mandiri, termasuk dalam mempelajari dan menghafal Al-Qur’an.

Menurut Farhan, pendekatan melalui kajian agama dan tausiah jauh lebih efektif dibandingkan sekadar sosialisasi formal pemerintah. Pendekatan berbasis dakwah ini dianggap lebih menyentuh hati dan mudah diterima oleh masyarakat luas, sehingga pesan inklusivitas bisa tersampaikan dengan lebih natural.