Pramono Anung Dinilai Berpeluang di Pilpres 2029 dengan Gaya Kalem
Ringkasan Berita:
Gubernur Jakarta Pramono Anung dinilai punya peluang Pilpres 2029; posisi DKI 1 jadi modal menaikkan popularitas dan elektabilitas nasional.
Maju 2029 disebut realistis untuk “menabung” elektabilitas, karena menghadapi petahana Prabowo Subianto dinilai sangat sulit; target besar bisa ke 2034.
Gaya kalem ala Susilo Bambang Yudhoyono dan dukungan PDI Perjuangan menjadi modal kuat untuk pencalonan dan menjaga kekuatan partai.
TRIBUNJAKARTA.COM - Sebagai Gubernur Jakarta, Pramono Anung diperhitungkan dalam kancah perpolitikan nasional, khususnya Pilpres 2029 yang akan datang.
Sebab, pendahulunya, Jokowi dan Anies Baswedan, adalah dua sosok yang menjadi capres setelah menduduki kursi DKI 1.
Founder lembaga survei KedaiKOPI, Hendri Satrio, membedah peluang Pramono di Pilpres yang akan datang saat menjadi narasumber di podcast GASPOL! Youtube Kompas.com.
Strategi 'Transit' dan Tabungan Elektabilitas
Menurutnya, 2029 bisa jadi hanya sebuah stasiun transit bagi Pramono sebelum menuju destinasi utama di Pilpres 2034.
Hendri menilai, jika Pramono Anung maju dalam kontestasi Pilpres 2029, target realistisnya mungkin bukan langsung menumbangkan dominasi petahana, Prabowo Subianto yang digadang-gadang akan maju untuk periode keduanya, melainkan menabung popularitas.
"Kalau ada yang mau menantang Prabowo 2029 siapapun dia, pasti tujuannya nabung elektabilitas, nabung popularitas karena menang itu sulit," ujar Hendri di program Gaspol, dikutip Selasa (17/2/2026).
Pramono disebut memiliki modal yang sangat kuat sebagai Gubernur Jakarta. Jabatan ini dianggap sebagai instrumen strategis yang bisa memunculkan popularitasnya secara berkala lewat kebijakan-kebijakan yang menyentuh warga.
"Dia punya tabungan kan sekarang sebagai Gubernur Jakarta... artinya dia punya tabungan dua kali, di 2029 maju Pilpres, 2031 maju gubernur lagi," tambahnya.
Gaya Kalem Ala SBY
Meski dikenal sebagai teknokrat yang lebih banyak bekerja di balik layar sebagai mantan Sekretaris Kabinet, gaya Pramono yang kalem justru dianggap sebagai nilai jual unik.
Hendri membandingkan gaya ini dengan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat pertama kali muncul di kancah nasional.
"SBY dulu juga kalem gayanya, santai, tapi yang dijual adalah kegagahan. Pramono ini kalem, dan dia punya cara komunikasi yang tidak meledak-ledak tapi sampai ke hati pemilih," ulas Hendri.
Kartu Truf PDIP
Satu hal yang membedakan Pramono dengan tokoh lain seperti Anies Baswedan adalah dukungan institusional partai yang solid.
Sebagai kader inti PDIP, Pramono memiliki tiket yang lebih pasti jika Ibu Ketua Umum Megawati Soekarnoputri memberikan mandat.
Pencalonan Pramono di 2029 juga dibaca sebagai langkah strategis Banteng Moncong Putih untuk menjaga Coattail Effect atau efek ekor jas partai agar tidak tergerus oleh dominasi Gerindra.
"PDI Perjuangan most likely kalau Pram mau ya akan memberikan tiket dong," tegas Hendri.
Melawan Petahana: Misi Mustahil?




