Prabowo: Kalah dalam Pilpres Tak Perlu Disimpan dalam Dendam
Sumber Foto: Kompas.com
Nasional

Prabowo: Kalah dalam Pilpres Tak Perlu Disimpan dalam Dendam

Kompas.com, 6 Januari 2026, 08:52 WIB

Adhyasta Dirgantara,

Nawir Arsyad Akbar

Tim Redaksi

Lihat Foto

Presiden Prabowo Subianto dalam Perayaan Natal Nasional 2025 di Lapangan Tenis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026).(Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengungkit dirinya yang tiga kali kalah dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2009, 2014, dan 2019.

Namun, kekalahan tersebut tidak masalah oleh dirinya. Sebab dalam politik, Prabowo mengingatkan bahwa persaingannya memang keras dan ketat.

"Kalau masuk ke dalam kancah politik pasti persaingan sangat ketat. Keras, ketat, dan tidak ada masalah. Masuk lapangan bola pun persaingan sangat keras, mana ada orang yang mau kalah," ujar Prabowo saat memberikan sambutan dalam Perayaan Natal Nasional 2025, di Jakarta, Senin (5/1/2026).

Baca juga: Prabowo: Tahun 2025, Kita Tidak Impor Beras Sama Sekali

"Waktu kita kalah sepak bola saja sedihnya bukan main. Aku kalah pilpres berapa kali itu, sudah lupa, tapi tidak ada masalah. Tidak boleh kita sakit hati, tidak boleh dendam, tidak boleh benci, dan itu saya. Saya berusaha untuk teguh pada pendirian itu," sambungnya.

Prabowo menyampaikan, sikap pemaaf merupakan ajaran yang dijunjung tinggi oleh seluruh agama.

Menurutnya, nilai tersebut mengajarkan manusia untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan mengedepankan kebaikan dan persatuan.

Dalam kesempatan itu, Prabowo mengutip ajaran Nasrani yang bersumber dari khotbah Yesus dalam Matius 5:39, yakni pesan tentang tidak membalas perlakuan buruk dengan tindakan serupa.

"Keluarga saya sebagian itu nasrani. Kalau ajaran nasrani yang paling pokok ya, kalau pipi kiri kita ditempeleng, kita harus kasih pipi kanan, betul ya? Karena waktu kecil saya sekolah Kristen juga. Jangan-jangan saya mengerti cerita-cerita di Bible lebih dari saudara-saudara, jangan-jangan," ujar Prabowo.

Baca juga: Prabowo: Kalau Dikritik, Malah Kita Harus Bersyukur

Ia menegaskan, dalam kehidupan pribadi maupun berbangsa, dirinya selalu berupaya mencari sisi kebaikan daripada mempertajam perbedaan.

Prabowo mengaku lebih memilih merangkul dan membangun persatuan ketimbang menciptakan perpecahan.

Kepala Negara juga menceritakan bahwa sikapnya yang mudah memaafkan kerap mendapat respons dari anggota keluarganya.

Baca juga: Prabowo: PDIP di Luar Pemerintahan tapi Saya Dukung Pramono Jadi Gubernur DKI

Menurut Prabowo, kesalahan seseorang tidak bisa terus-menerus dijadikan dasar penilaian tanpa melihat perubahan dan konteks waktu.

"Dan ini saya kira ajaran semua agama kita. Jadi saya kadang-kadang kalau di keluarga saya, beberapa saudara saya malah suka marah sama saya. Bowo kamu kenapa selalu (memaafkan)? Dia dulu begini-giniin kamu. Saya bilang, itu kan dulu. Sekarang keadaannya harus bersatu. Harus bersatu. Harus bekerja sama," tandas Prabowo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Prabowo Subianto

maaf

pilpres

Perayaan Natal Nasional 2025

kalah Pilpres

Lihat Nasional Selengkapnya

Prabowo Sorot Banyak Pakar yang Asal Bicara di Podcast

Prabowo: Kalau Dikritik, Malah Kita Harus Bersyukur

Prabowo Ungkap Ahli dari Rockefeller Institute AS Puji Program MBG

Hari Ini, Prabowo Gelar Retret Menteri di Hambalang

Prabowo: PDIP di Luar Pemerintahan tapi Saya Dukung Pramono Jadi Gubernur DKI

Prabowo: Kekayaan Indonesia Harus Benar-benar Dinikmati oleh Seluruh Rakyat

Presiden: Ada yang Teriak Prabowo Mau Hidupkan Militerisme, Apa Benar?

Prabowo: Dengan Bangga Saya Sampaikan Indonesia Sudah Swasembada Beras

Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Harapan agar Negara Cepat Evakuasi WNI dari Timur Tengah yang Masih Panas

Nasional

04/03/2026, 23:13 WIB

WNI di Kamboja dan Janji 19 Juta Lapangan Kerja

Nasional

04/03/2026, 22:56 WIB

Deradikalisasi Eks Napi Teroris: Dulu Angkat Senjata, Kini Angkat Cangkul

Nasional

04/03/2026, 22:30 WIB

AHY Harap Konflik di Timur Tengah Tak Pecah Jadi Perang Dunia III

Nasional

04/03/2026, 22:11 WIB

Menlu RI Minta KBRI Tangani 160 WNI di Yordania yang Minta Dievakuasi

Nasional

04/03/2026, 21:51 WIB

Prabowo Kirim Surat Belasungkawa Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei

Nasional

04/03/2026, 21:41 WIB

Pesan AHY ke Prabowo: Demokrat Sering Turun ke Bawah Bukan Manuver Politik

Nasional

04/03/2026, 21:36 WIB

Muzani: RI Bisa Keluar BoP tapi Harus Ada Kesepakatan Bersama

Nasional

04/03/2026, 21:22 WIB

Perkuat Silaturahmi, Kemendagri Gelar Buka Bersama dan Ceramah Ramadhan

Nasional

04/03/2026, 21:21 WIB

AHY Ingin Suara Demokrat Tak Kalah Kencang dari Gerindra di 2029

Nasional

04/03/2026, 21:09 WIB

KPK Sebut Duit Dibagi ke Keluarga: Fadia Arafiq Rp 5 M hingga Anak Rp 7 M

Nasional

04/03/2026, 20:59 WIB

Bahlil Ungkap Sumatera Jadi Lokasi Alternatif Terbaik untuk Bangun Penyimpanan BBM

Nasional

04/03/2026, 20:51 WIB

Muzani Sebut Prabowo Terima Kritik dan Masukan Presiden-Wapres Terdahulu

Nasional

04/03/2026, 20:47 WIB

Gaspol Hari Ini: Perang Dunia di Depan Mata, Prabowo Bisa Apa?

Nasional

04/03/2026, 20:39 WIB

Menag: Nuzulul Quran Bakal Dilaksanakan di Istana Negara

Nasional

04/03/2026, 20:33 WIB

1

2

3

Next

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app