PLN Indonesia Power Luncurkan Program KALANDRA untuk Pemberdayaan Difabel
Sumber Foto: Dunia Energi
Sosial

PLN Indonesia Power Luncurkan Program KALANDRA untuk Pemberdayaan Difabel

| | 1295 Tampilan

Teknisi PLN Indonesia Power UBP Lontar memberikan penjelasan teknis kepada pembina kelompok NOSATA terkait penggunaan dan pemeliharaan mesin pengering batik 'Drytik'. Mesin ini merupakan inovasi berbasis limbah scrap pembangkit yang mendukung efisiensi produksi dan transisi energi bersih dalam program KALANDRA (Foto/Dok/PLN IP)

TANGERANG — PLN Indonesia Power (PLN IP) melalui Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Lontar meluncurkan program inovasi sosial bernama KALANDRA atau Kemandirian Penyandang Difabel Lewat Karya Ramah Lingkungan. Program ini menjadi langkah nyata perusahaan dalam mendukung kemandirian penyandang disabilitas sekaligus mendorong pemanfaatan energi bersih di tingkat komunitas.

KALANDRA hadir sebagai jawaban atas tantangan sosial dan lingkungan di wilayah Banten. Rendahnya penyerapan tenaga kerja difabel, dampak pemutusan hubungan kerja (PHK), serta minimnya akses terhadap teknologi ramah lingkungan menjadi latar belakang lahirnya program ini. Melalui KALANDRA, PLN IP menggandeng kelompok usaha difabel NOSATA, yang beranggotakan alumni Sekolah Khusus Balaraja, untuk mengembangkan keterampilan membatik, menjahit, kriya, tata boga, dan tata rias.

Program ini juga memperkenalkan teknologi sederhana namun berdampak besar. Di antaranya adalah mesin pengering batik “Drytik” yang memanfaatkan limbah PLTU dan tenaga surya, serta instalasi pengolahan air limbah membatik berbasis FABA (fly ash dan bottom ash). Empat unit panel surya dengan kapasitas total 2.480 watt peak kini menopang operasional kelompok NOSATA, menghemat biaya listrik sekaligus mendukung transisi energi bersih.

Bernardus Sudarmanta, Direktur Utama PLN Indonesia Power, menjelaskan KALANDRA sebagai bagian dari transformasi energi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

“KALANDRA bukan hanya tentang batik, tapi tentang martabat. Kami percaya bahwa energi yang kami hasilkan harus memberi daya pada kehidupan, terutama bagi mereka yang selama ini berada di pinggir sistem,” ujar Bernadus dalam keterangannya (30/11).

Dampak program ini mulai terlihat. Sebanyak 12 difabel kini aktif membatik, memiliki penghasilan tetap, dan menjalankan usaha secara mandiri. Kelompok NOSATA juga berhasil menciptakan motif batik khas seperti “Prasanta” dan “Ayam Jawara Wareng”, yang mengangkat filosofi PLTU dan budaya lokal Kabupaten Tangerang. Galeri batik yang mereka bangun kini menjadi pusat pembelajaran bagi sekolah khusus di wilayah Tangerang.

KALANDRA juga menjadi ruang kolaborasi lintas sektor. Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, TNI AU, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, dan berbagai komunitas difabel ikut terlibat dalam pengembangan program. NOSATA bahkan telah menjadi tempat belajar membatik bagi komunitas difabel di Kota dan Kabupaten Tangerang.

Dengan rencana pengembangan hingga 2026, KALANDRA diharapkan terus tumbuh menjadi program yang tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (RI)

CSR Difabel listrik PLN

Tinggalkan Balasan

Komentar

Nama *

Email *

Situs Web

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga

Program “Ewako Lowita” PLN IP Hadirkan Harmoni Ekosistem dan Ekonomi

CSR 2/04/2026

PLN Indonesia Power Ubah Ribuan Ton Sampah Jadi Energi dan Kemendirian Ekonomi

CSR 1/04/2026

CSR Inklusif dan Berkelanjutan, Patra Drilling Contractor Antar Penyandang Disabilitas Jadi Wirausaha Kuliner

CSR 1/04/2026

Geliat UMK Daerah Tambang, Optimalkan Momentum Lebaran

CSR 11/03/2026

14 Tahun Dunia Energi Perkuat Peran sebagai Portal Informasi Sektor Energi

CSR 6/03/2026

Safari Ramadan, MIND ID Salurkan Bantuan Bagi Anak Penyandang Kanker

CSR 4/03/2026

Berita Lainnya

Serikat Pekerja PLN Teguhkan Sikap Tempuh Banding Lawan RUPTL 2025–2034

Kelistrikan 12 jam yang lalu

Pertamina Pastikan Operasi PLTP Lahendong Beroperasi Normal Pasca Gempa Sulawesi Utara

Energi Terbarukan 12 jam yang lalu

Sumur TOPI-002 PHR Catat Produksi Awal 795 Barel per Hari

Migas 12 jam yang lalu

Kemitraan dengan Jepang, Peluang Indonesia Jadi Pemimpin Pasar Karbon Global

New Energy 16 jam yang lalu

Indeks Berita