Perjuangan Guru Difabel Menabung untuk Umroh: Inspirasi di Tengah Keterbatasan
Menjadi guru adalah pilihan hidup dan Menjadi guru disabilitas adalah panggilan jiwa. Saya, Ali Rofik, berasal dari Malang, sebuah kota yang dinginnya menenangkan, tetapi juga menyimpan banyak cerita perjuangan. Di ruang kelas tempat saya mengajar, saya tidak hanya bertemu dengan murid-murid yang beraneka ragam. Saya bertemu dengan cermin kehidupan. Saya belajar tentang kesabaran, ketulusan, dan makna menerima diri apa adanya.
Sebagai guru penyandang disabilitas, saya memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan standar umum. Ada jalan yang lebih terjal, ada proses yang lebih panjang, dan ada usaha yang harus dilakukan dua kali lebih keras. Namun justru dari situlah saya menemukan makna. Keterbatasan tidak pernah saya anggap sebagai kekurangan. Ia adalah cara Tuhan mengajarkan saya tentang keteguhan.
Sejak tahun 2020, saya memulai satu ikhtiar yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi saya sangat besar artinya: menabung untuk umroh tahun 2026. Keputusan itu saya ambil di tengah situasi dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Pandemi melanda. Sekolah berubah menjadi pembelajaran jarak jauh. Banyak orang mengalami kesulitan ekonomi. Dalam kondisi seperti itu, memulai tabungan umroh bisa saja dianggap nekat. Namun bagi saya, justru di masa sulitlah mimpi harus diperjuangkan dengan lebih serius.
Saya tidak memiliki penghasilan berlebih. Sebagai guru, terlebih guru disabilitas, kehidupan saya jauh dari kata mewah. Tetapi saya memiliki keyakinan. Setiap bulan saya menyisihkan sebagian rezeki. Kadang jumlahnya kecil. Kadang harus menahan keinginan membeli sesuatu yang sebenarnya saya inginkan. Kadang harus memilih sederhana agar ada yang bisa disimpan. Dari situlah saya belajar bahwa menabung bukan hanya soal uang, tetapi soal komitmen.
Empat tahun lebih saya menjaga konsistensi itu. Tidak ada sorotan. Tidak ada pengumuman besar. Hanya catatan kecil di buku keuangan pribadi dan doa yang terus saya ulang dalam sujud. Setiap kali melihat tayangan orang-orang tawaf di depan Ka'bah, hati saya bergetar. Setiap kali mendengar talbiyah, ada rasa rindu yang sulit dijelaskan. Rindu itu bukan sekadar ingin bepergian. Rindu itu adalah keinginan untuk bersujud lebih dekat, untuk berdoa lebih khusyuk, untuk mengadu tanpa jarak.
Mengapa umroh begitu penting bagi saya? Karena perjalanan itu adalah simbol syukur. Saya ingin berdiri di depan Ka'bah membawa nama kedua orang tua saya dalam doa. Saya ingin menyebut nama murid-murid saya satu per satu, memohon agar mereka diberi masa depan yang cerah. Saya ingin mendoakan pendidikan inklusif di Indonesia agar semakin diperjuangkan dengan serius, bukan sekadar menjadi wacana.
Dalam konteks itulah, saya berharap HabasyGO berkenan memilih saya untuk umroh tahun ini. Bukan semata-mata karena saya memiliki keterbatasan, tetapi karena saya memiliki konsistensi. Sejak 2020 saya sudah membuktikan kesungguhan itu dengan menabung secara rutin. Jika kesempatan itu datang lebih cepat dari target 2026, maka itu bukan hanya hadiah bagi saya, melainkan juga inspirasi bagi murid-murid saya.
Saya membayangkan suatu hari kembali ke kelas dan berkata kepada mereka, "Anak-anak, mimpi itu harus diusahakan. Pak Guru sudah membuktikannya."
Saya ingin mereka melihat bahwa doa dan kerja keras bisa berjalan beriringan. Bahwa harapan bukan sesuatu yang abstrak. Ia harus diperjuangkan dengan langkah-langkah kecil yang nyata.
HabasyGO tentu memiliki banyak kandidat yang layak. Namun memilih saya berarti menyuarakan semangat inklusi. Memilih saya berarti menunjukkan bahwa perjuangan yang sunyi pun patut dihargai. Memilih saya berarti menghadirkan kisah yang bisa menginspirasi banyak orang, khususnya di dunia pendidikan.




