Penurunan Kunjungan Wisata di Telaga Sarangan, Ketua Pokdarwis Minta Sistem Informasi Terintegrasi
Telaga Sarangan, salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengalami penurunan signifikan dalam jumlah kunjungan wisatawan selama libur Lebaran tahun ini. Penurunan ini terlihat tidak hanya dari jumlah kedatangan, tetapi juga dari durasi menginap wisatawan di hotel-hotel sekitar wilayah tersebut.
Nunung Widya, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Magetan dan juga pelaku usaha perhotelan di Sarangan, menyatakan bahwa kondisi ini menjadi tanda peringatan bagi manajemen pariwisata lokal. Meskipun terdapat lonjakan pengunjung pada hari ketiga Lebaran, jumlah total kunjungan selama periode libur tersebut tetap berada di bawah angka tahun lalu.
Nunung menjelaskan bahwa berbagai isu negatif yang tersebar di media sosial sebelum Lebaran, termasuk cuaca ekstrem, longsor, dan harga yang dianggap mahal, telah berdampak pada citra Telaga Sarangan. Ia berpendapat bahwa berita-berita tersebut tidak merefleksikan kondisi aktual di lapangan yang sudah diperbaiki.
"Banyak pemberitaan yang kurang menguntungkan sebelum Lebaran. Padahal fakta di lapangan sudah diselesaikan dan tidak seburuk itu," ujarnya. Menurut Nunung, dari skala 1 hingga 10, tingkat kebenaran berita negatif tentang Sarangan yang beredar hanya berkisar di angka 2 atau 3.
Kurangnya informasi yang seimbang dari pihak berwenang membuat potensi wisatawan merasa ragu untuk berkunjung. Selain itu, Nunung menyoroti minimnya daya tarik tambahan atau atraksi di lokasi wisata yang dapat membuat wisatawan ingin berlama-lama.
"Wisatawan butuh alasan untuk tinggal lebih lama. Jika tidak ada atraksi baru, durasi menginap pasti menurun," tuturnya. Ia juga mengkritik kebijakan rekayasa lalu lintas yang terkadang tidak akurat, contohnya papan informasi yang menyatakan Sarangan penuh, padahal masih terdapat banyak ruang parkir di area wisata.
Para pelaku usaha hotel dan jasa wisata di Sarangan telah berusaha melakukan promosi dan klarifikasi melalui media sosial. Namun, upaya ini dianggap kurang efektif karena bersifat terpisah. "Kami butuh sistem informasi terintegrasi. Promosi dan klarifikasi harus dilakukan secara masif di seluruh kanal digital, bukan hanya satu atau dua laman saja," tambah Nunung.
Berdasarkan data komparatif dari tanggal 18 hingga 23 selama libur Lebaran, penurunan jumlah kunjungan terlihat jelas, dengan angka mencapai sekitar 2.000 orang jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Nunung menegaskan bahwa meskipun ada lonjakan pada hari ketiga Lebaran, kunjungan secara keseluruhan tetap tidak mampu mengejar capaian tahun lalu.
"Secara keseluruhan memang terjadi penurunan jumlah wisatawan. Jika kita bandingkan dengan tahun sebelumnya, penurunannya sekitar 2.000-an wisatawan, baik yang menginap maupun yang hanya berkunjung sehari," pungkas Nunung.




