Pengamat: AHY dan Bahlil Maju di Pilpres 2029 Sebagai Persiapan untuk 2034
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Pengamat politik Hendri Satrio memprediksi nasib sejumlah ketua umum (Ketum) partai politik seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari Demokrat, Bahlil Lahadalia dari Golkar, Zulkifli Hasan (Zulhas) dari PAN hingga Muhaimin Iskandar dari PKB, jika nekat maju melawan Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.
Menurut Hendri, langkah tersebut belum tentu ditujukan untuk menang, melainkan sebagai strategi jangka panjang menuju Pilpres 2034.
Hal itu disampaikan Hendri dalam program Gaspol yang tayang di kanal YouTube Kompas.com, Minggu (15/2/2026).
“Memang per hari ini agak sulit cari penantangnya Pak Prabowo. Kalaupun ada penantangnya pasti mereka wait and see dulu,” kata Hendri.
Ia menjelaskan, tingginya tingkat kesukaan publik terhadap Prabowo menjadi faktor utama yang membuat calon penantang berpikir ulang.
Program-program pemerintah yang langsung menyentuh masyarakat, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, dan Koperasi Merah Putih, dinilai memperkuat posisi Prabowo sebagai petahana.
“Biasanya tingkat kesukaan kepada presiden itu tinggi. Dari zaman Susilo Bambang Yudhoyono belum pernah ada incumbent yang gagal dua periode,” ujarnya.
Menabung Modal Politik
Hendri menilai, jika tokoh seperti AHY, Bahlil, atau bahkan Zulhas tetap maju pada Pilpres 2029, tujuan utamanya bukan untuk mengalahkan Prabowo.
Sebaliknya, mereka dinilai sedang nabung elektabilitas untuk kontestasi berikutnya, di 2034.
“Kalaupun ada penantang yang maju itu dia pasti preparation untuk 2034. Jadi dia nabung elektabilitas sama nabung popularitas aja,” kata Hendri.
Founder lembaga survei KedaiKOPIU itu menambahkan, momentum Pilpres merupakan panggung politik yang sangat berharga dan tidak boleh dilewatkan.
Menurut dia, kehadiran nama calon di surat suara, pemberitaan media, hingga sosialisasi politik secara tidak langsung menjadi sarana promosi gratis.
“Negara secara tidak langsung sudah mempopulerkan kita lewat kertas suara, lewat sosialisasi-sosialisasi. Itu popularitas gratis,” ujarnya.
Minta Izin Prabowo
Dalam analisanya, Hendri bahkan menyebut kemungkinan adanya komunikasi politik antara calon penantang dan Prabowo sebelum Pilpres digelar.
Ia menggambarkan skenario di mana calon lawan tetap menunjukkan loyalitas politik meski maju sebagai rival.




