Pengabdian Mahiratun Fadilah, Pengajar Al Quran Difabel di Yogyakarta
Sumber Foto: Kompas.com
Sosial

Pengabdian Mahiratun Fadilah, Pengajar Al Quran Difabel di Yogyakarta

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Berprofesi sebagai pengajar Al Quran sudah menjadi panggilan hati bagi Mahiratun Fadilah (28).

Perempuan yang akrab disapa Mahir ini mengabdikan dirinya sebagai guru di Madrasah Tsanawiyah (MTs) LB/A Yaketunis, sebuah sekolah luar biasa khusus tunanetra di Yogyakarta sejak tahun 2021.

“Ada siswa yang tidak bisa diajari menulis membaca karena keterbatasan motorik atau slow learner. Untuk menyiasati kalau ada yang mudah tantrum kita jalan-jalan, dan cerita-cerita,” kata Mahir, Sabtu (21/2/2026).

Awalnya Mahir mengajar secara daring, namun setahun berikutnya ia memutuskan untuk tinggal di asrama Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis).

Berada di lingkungan difabel membuatnya harus beradaptasi dengan metode pembelajaran yang berbeda, di mana siswa lebih banyak mendengarkan secara seksama dan berdiskusi dibandingkan menulis.

Tantangan Mengajar Al Quran Braille dan Huruf Otodidak

Pembelajaran Al Quran di sekolah ini dibagi menjadi tiga jenjang, mulai dari kelas Iqro, kelas membaca Al Quran, hingga kelas khusus bagi siswa yang memiliki hambatan motorik atau lambat belajar.

Mahir menjelaskan bahwa tantangan utama adalah sarana prasarana, karena Al Quran braille dicetak per juz sehingga guru harus mencocokkan bacaan murid dengan teliti.

Kondisi tersebut menuntut Mahir untuk belajar huruf braille secara otodidak.

Meski awalnya ia hanya mengajar di MTs umum, ia merasa perlu menguasai kemampuan tersebut untuk menunjang proses menyimak hafalan atau bacaan siswa-siswanya.

“Ternyata pembelajarannya seperti ini, Al Quran braille seperti ini. Saya pribadi sebenarnya belum bisa karena huruf arab di braille itu kompleks, kalau menyimak anak-anak pakai braille saya pakai yang awas. Tapi sudah saya cek dulu,” jelas Mahir.

Pengabdian Tanpa Pamrih dan Harapan Literasi Difabel

Selain mengaji, Mahir juga mengajar pelajaran agama Islam. Ia menceritakan kesulitan saat memberikan instruksi gerakan shalat, di mana ia harus mendampingi siswa satu per satu karena mereka enggak bisa melihat contoh gerakan secara langsung.

Untuk menyiasatinya, ia menggunakan metode teman sebaya atau peer learning.

Meski berstatus sebagai guru honorer atau guru yayasan, Mahir mengaku tidak mengejar pendapatan dari aktivitasnya mengajar Al Quran di asrama.

Ia lebih memilih menganggap kegiatannya tersebut sebagai bentuk relawan dan panggilan hati, sementara kebutuhan ekonominya dicukupi dari gaji sekolah dan les privat.

“Saya di bawah Kemenag MTS. Kalau saya memang tidak istilahnya saya niatkan relawan tidak mengincar pendapatan pemasukan ada dari sekolah dan les privat. Ketika tidak mengajar di asrama itu saya manfaatkan untuk kumpul-kumpul menabung,” kata Mahir.

Mahir berharap ke depannya ada perhatian lebih terkait literasi bagi penyandang tunanetra, terutama bantuan buku-buku bacaan dan kitab dalam format braille yang jumlahnya masih sangat terbatas.

Selain itu, ia juga berharap transportasi umum yang ramah difabel diperbanyak agar memudahkan mobilitas siswa saat menghadiri undangan acara di luar sekolah.