Portal News Day - SANGATTA – Komitmen menghadirkan hunian yang bukan hanya pantas ditempati, melainkan pula menyehatkan penghuninya, kembali ditegaskan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim). Pada 2026, melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), pemerintah daerah mengalokasikan pembangunan 1.024 unit septik tank sehat bagi warga, dengan total anggaran mencapai Rp 4 miliar.
Program tersebut bukan proyek serampangan. Rancang bangun dan spesifikasi teknisnya telah mengantongi rekomendasi laboratorium dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Artinya, mutu konstruksi dan standar teknisnya merujuk ketentuan nasional, sehingga keberlanjutan serta aspek keamanannya terukur.
Kepala Dinas Perkim Kutim Ahmad Iip Makruf melalui Kepala Bidang Permukiman Muhammad Noor menuturkan, pelaksanaan program dilakukan secara kolaboratif bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim melalui program jamban sehat. Sinergi antarsektor ini dirancang agar sanitasi rumah tangga tidak dikerjakan secara terpisah, melainkan saling menyempurnakan.
“Kami berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan menyiapkan jamban dan biliknya, sedangkan Dinas Perkim menyiapkan septik tank-nya. Jadi ini saling melengkapi agar sanitasi rumah tangga benar-benar layak dan sehat,” ujar Muhammad Noor saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (26/2/2026).
Muhammad Noor menjelaskan, perjalanan program septik tank individual tersebut terentang cukup panjang. Gagasan awalnya bertolak dari hibah septik tank individual yang digulirkan Kementerian PUPR pada 2017 hingga 2018. Sejak 2019, Pemkab Kutim mulai mengalokasikan anggaran secara mandiri. Pada tahun itu, sekitar 400 unit septik tank telah terpasang (existing).
Namun, badai pandemi Covid-19 pada 2020 hingga 2022 membuat laju program sempat tertahan. Prioritas anggaran bergeser untuk penanganan kedaruratan kesehatan. Setelah situasi berangsur stabil, pembiayaan kembali dilanjutkan melalui APBD Kutim, menandai kesinambungan komitmen pemerintah daerah terhadap perbaikan sanitasi.
Menurut Muhammad Noor, keterbatasan fiskal bukan alasan untuk mengendurkan ikhtiar. Ia menekankan bahwa dampak program ini jauh melampaui pembangunan fisik semata.
“Sanitasi yang baik bukan hanya soal infrastruktur, tapi soal masa depan keluarga. Dengan lingkungan yang bersih, risiko penyakit berbasis lingkungan bisa ditekan,” tegasnya.
Program ini juga tercatat sebagai salah satu unggulan Bupati Kutim dalam mendorong peningkatan mutu hunian dan derajat kesehatan masyarakat. Pelaksanaannya melibatkan sejumlah Perangkat Daerah yang tergabung dalam Tim Pokja Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), agar perencanaan, verifikasi, hingga implementasi berjalan terarah serta tepat sasaran.
Bagi Pemkab Kutim, rumah layak huni tak berhenti pada dinding kokoh dan atap teduh. Ia mesti ditopang sistem sanitasi aman dan ramah lingkungan. Sebab, dari ruang domestik yang bersih dan tertata, tumbuh keluarga yang sehat, dan dari keluarga yang sehat, masa depan daerah disemai dengan lebih tegap. (kopi4/kopi3)