Portal News Day - JAKARTA - Pemerintah menyatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 siap menyangga efek gejolak global dengan defisit tetap terjaga di bawah tiga persen.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan Kementerian Keuangan secara rutin melakukan stress test terhadap berbagai skenario global, termasuk potensi kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah.
“Stress-test yang kami lakukan pada skenario yang cukup plausible itu menunjukkan bahwa defisit masih terjaga di bawah tiga persen, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) juga masih terjaga,” kata Juda dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (3/3).
Wamenkeu menjelaskan setiap kenaikan satu dolar AS minyak mentah Indonesia (ICP) berpotensi menambah defisit 6,8 triliun rupiah. Sementara itu, setiap pelemahan 100 rupiah terhadap dollar AS akan berdampak 800 miliar rupiah defisit, dan kenaikan imbal hasil (yield) 0,1 persen berpotensi menambah beban 1,9 triliun rupiah.
Meski begitu, hasil stress test pada skenario yang dinilai cukup kredibel menunjukkan defisit tetap terjaga.
“APBN itu memang didesain dengan prinsip prudent, disiplin, dan fleksibel. Prudent dan disiplin, kami memastikan bahwa defisit di bawah tiga persen,” tambahnya.
Dari sisi pembiayaan, Kementerian Keuangan juga terus melakukan diversifikasi sumber pendanaan guna memperkuat ketahanan fiskal.
Jika sebelumnya pembiayaan global didominasi dollar AS, kini pemerintah memperluas basis investor dan mata uang.
Kemenkeu sendiri menerbitkan surat utang global dalam mata uang euro dan renminbi yang nilainya setara 4,5 miliar dollar AS.
Menurut Juda, imbal hasil untuk surat utang dengan mata uang renminbi berkisar 2-3 persen dan euro 4-5 persen.
“Ini ukurannya masih sangat bagus sekali untuk pasar global kita,” katanya.
Di sisi investasi, pemerintah telah memasukkan proyeksi investasi asing dalam skenario pertumbuhan ekonomi. Selain itu, peran investasi domestik kini juga diperkuat melalui entitas baru pemerintah, yakni Danantara.
Wamenkeu mengatakan bahwa saat ini pemerintah lebih memfokuskan belanja APBN pada konsumsi pemerintah dan penguatan kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.
Sementara, pembiayaan investasi semakin banyak dilakukan melalui Danantara serta dukungan investasi luar negeri. Dengan berbagai instrumen tersebut, Wamenkeu optimistis keseimbangan antara penerimaan dan belanja negara tetap dapat dijaga di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.