Peluncuran Buku Inspiratif Karya Difabel dalam Acara 'Gerak Tak Terbatas'
JAKARTA – Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Gerak Tak Terbatas: Bercerita Berdendang, Sahabat Inklusi 2026” pada Senin (16/2/2026), di Kebayoran Park Mall, Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara komunitas difabel dan masyarakat luas dalam semangat memperkuat inklusi sosial.
Momentum utama acara ini adalah peluncuran buku inspiratif berjudul “Terbatas tapi Tak Pernah Dibatasi”, sebuah karya kolaboratif dari sepuluh penulis difabel yang membagikan pengalaman, perjuangan, serta harapan mereka. Peluncuran dilakukan secara simbolis di hadapan tamu undangan, komunitas, dan pengunjung mal yang turut menyaksikan rangkaian kegiatan.
Ketua DNIKS Bidang Peningkatan Skills dan Pengembangan Profesi, RA Loretta Kartikasari –yang juga bertindak sebagai ketua pelaksana–menyampaikan, kreativitas dan potensi teman difabel sangat beragam serta memiliki nilai besar untuk terus dikembangkan.
Perempuan yang akrab disapa Dya Loretta itu menegaskan, melalui bidang yang dipimpinnya, DNIKS berupaya memberikan dukungan nyata berupa pendampingan, pembukaan akses partisipasi dengan dunia industri, serta fasilitasi berbagai program untuk menampilkan bakat dan talenta difabel. Upaya tersebut dilakukan agar teman difabel memiliki ruang setara untuk berkembang dan berkontribusi di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua Umum DNIKS Effendy Choiri dalam sambutannya menegaskan, komitmen organisasi dalam mendukung 22 program prioritas bagi penyandang disabilitas serta enam program tambahan yang difokuskan bagi perempuan dan anak. Program tersebut mencakup penguatan pendidikan inklusif, peningkatan keterampilan dan akses kerja, pengembangan kewirausahaan, perlindungan sosial, serta penguatan peran keluarga dan komunitas.
Menurutnya, pembangunan yang berkeadilan harus memberi ruang bagi seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas. “Inklusi sosial bukan hanya tentang penyediaan fasilitas, tetapi juga perubahan cara pandang masyarakat agar mampu melihat potensi, bukan sekadar keterbatasan,” ujar Effendy Choiri, dalam keterangan yang didapat POSKOTAONLINE.COM, Selasa (17/2/2026).
Buku “Terbatas tapi Tak Pernah Dibatasi” merupakan hasil karya sepuluh penulis difabel dari berbagai latar belakang, yakni Grace Kurniadi, Isarotul Imamah, Aulia Nabila F.A.L.W., Iin Nurjanah, Andre Genta S., M. Rifki Asudais, Ristan Kenedi, Rani Fitria A., Yeni Endah, dan Ibnu Muzaki. Sebagian penulis hadir langsung, sementara lainnya mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom.
Salah satu penulis, Iin Nurjanah mengungkapkan, keterlibatannya dalam buku ini merupakan pencapaian yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan. Impian untuk menerbitkan buku yang dahulu terasa jauh, kini terwujud berkat dukungan dan pendampingan dari DNIKS. Dalam buku tersebut, Iin menulis tentang keunikan di tengah keterbatasan dan berharap karyanya dapat memotivasi teman difabel untuk berani menunjukkan potensi diri di ruang publik.
Hal serupa disampaikan Rani Fitria A., yang untuk pertama kalinya menulis dalam buku kolaborasi. Ia berharap sudut pandang dan pengalaman para difabel yang tertuang dalam buku ini mampu memberi inspirasi dan dampak positif bagi masyarakat luas.
Tak hanya peluncuran buku, DNIKS juga menghadirkan sesi edukatif bertajuk “Mengenal Bahasa Isyarat” yang dipandu oleh Ibnu Muzaki dari komunitas Teman Tuli. Sesi ini memperkenalkan bahasa isyarat kepada masyarakat umum sekaligus mengajak peserta memahami pentingnya komunikasi yang inklusif. Peserta diajak mempraktikkan gerakan dasar bahasa isyarat sebagai simbol bahwa inklusi dapat dimulai dari langkah sederhana — yakni kemauan untuk saling memahami.
Acara ditutup dengan penampilan musik bertajuk “Berdendang dan Berisyarat”. Giant Jay membawakan lagu ‘Raksasa’ bersama Teman Tuli, yang mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai pribadi dengan sindrom gigantisme serta menyampaikan pesan tentang keberanian bermimpi dan percaya diri.
Giant Jay juga berkolaborasi dengan Risty Tagor dan Angsherly membawakan lagu ‘Hidup tanpa Kata’, yang mengangkat pesan tentang pentingnya sistem dukungan di tengah masyarakat. Kolaborasi musik dan bahasa isyarat tersebut menghadirkan pertunjukan yang inklusif dan menyentuh.
Melalui kegiatan ini, DNIKS menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang partisipasi bagi penyandang disabilitas. ‘Gerak Tak Terbatas’ diharapkan menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas dalam membangun masyarakat yang menghargai keberagaman, memberikan kesempatan setara, serta mendukung setiap individu untuk berkembang sesuai potensinya.
DNIKS meyakini, ketika kesempatan dan dukungan diberikan secara konsisten, teman difabel tidak hanya mampu berkarya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat secara keseluruhan. (*/din)




