Peluang Indonesia Pimpin Kebangkitan Colombo Plan di Era Indo-Pasifik
Internasional

Peluang Indonesia Pimpin Kebangkitan Colombo Plan di Era Indo-Pasifik

Portal News Day - HARIAN BOGOR RAYA - Di tengah dinamika global yang terus berubah, Dr. Jeanne Francoise, dosen Hubungan Internasional dari President University, kembali menyoroti pentingnya memahami akar kerja sama regional melalui Colombo Plan —sebuah organisasi yang dibentuk pada 1950 di Colombo untuk mendorong pembangunan ekonomi dan sosial di kawasan Asia-Pasifik.

Gagasan untuk menghidupkan kembali peran Colombo Plan kembali mencuat di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks. Organisasi kerja sama regional yang lahir di Colombo pada 1950 ini dinilai masih memiliki relevansi strategis, terutama dalam mendorong pembangunan ekonomi di kawasan yang kini dikenal sebagai Indo-Pasifik.

Colombo Plan awalnya dibentuk oleh negara-negara Persemakmuran pasca Perang Dunia II, dengan tujuan membantu rekonstruksi dan pembangunan negara berkembang. Indonesia sendiri telah menjadi anggota sejak 1953, bersama sejumlah negara seperti India, Pakistan, Australia, dan Jepang. Seiring waktu, keanggotaannya meluas hingga lebih dari 25 negara di Asia-Pasifik.

Baca Juga: SAGKI 2025 Tutup Sidang dengan Rekomendasi Pastoral: Gereja Indonesia Didorong Jadi Peziarah Pengharapan

Menurut Dr. Jeanne Francoise, Colombo Plan bukan sekadar forum bantuan ekonomi, tetapi simbol pergeseran kerja sama global dari pola donor-recipient menuju kemitraan yang lebih setara. Dalam konteks Perang Dingin, organisasi ini juga memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan melalui pembangunan ekonomi.

Namun, gaung Colombo Plan dinilai mulai meredup seiring globalisasi dan perubahan lanskap geopolitik. Bahkan, istilah Asia-Pasifik kini bergeser menjadi Indo-Pasifik yang dipopulerkan oleh Donald John Trump sejak 2017. Pergeseran ini memperluas cakupan kawasan, sekaligus menantang relevansi organisasi lama seperti Colombo Plan.

Dalam perspektif defense heritage atau warisan pertahanan, Colombo Plan justru memiliki nilai historis yang kuat. Negara-negara anggotanya memiliki latar belakang perjuangan melawan kolonialisme Inggris, yang membentuk karakter bangsa seperti kemampuan diplomasi, ketahanan, dan kecenderungan untuk bekerja sama. Hal ini menjadi fondasi penting dalam membangun solidaritas regional yang berbasis pengalaman sejarah bersama.

Baca Juga: Gedung Gereja Katedral Jakarta Sebagai Objek Warisan Pertahanan Bangsa Indonesia

Lebih jauh, para pemikir hubungan internasional seperti Karl Deutsch, Michael Doyle, dan Hedley Bull menilai negara-negara Persemakmuran cenderung mengedepankan pembangunan ekonomi dan menghindari konflik. Di tengah ketegangan global, pendekatan ini dinilai relevan untuk menjaga stabilitas kawasan tanpa terjebak dalam rivalitas politik.

Untuk menghidupkan kembali Colombo Plan, sejumlah langkah strategis diusulkan. Di antaranya adalah menggelar kembali pertemuan tingkat tinggi secara langsung, yang terakhir kali dilakukan pada 2019 sebelum pandemi COVID-19. Selain itu, diperlukan perumusan ulang visi dan misi organisasi agar lebih adaptif terhadap tantangan global serta mampu menjangkau generasi muda melalui platform digital.

Berita Pilihan

9 Lagu Terpopuler Vidi Aldiano yang Kembali Viral: Nuansa Bening hingga Status Palsu Masih Digemari Pendengar

Kedubes AS Gelar Pelatihan Mobile Journalism bagi Jurnalis di American Space Istiqlal

Iftar Akbar Rusia–Indonesia di Masjid Istiqlal: 4.000 Jamaah Berbuka Puasa Bersama Dubes Sergei Tolchenov

Kedubes Iran di Jakarta Santuni 200 Pelajar untuk Peringati 17 Siswa Gugur akibat Serangan AS-Israel

Halaman:

1

Lihat Semua

2

Tags

Colombo Plan

Indo Pasifik

kerja sama ekonomi internasional

Terkini

Diamond Butterfly 2026 Tawarkan Prestige Tinggi, Indonesia Berpeluang Tampil di Ajang Film Elite Dunia 18 Juni 2026, 20:48 WIB

Diamond Butterfly 2026 Jadi Panggung Diplomasi Budaya, Indonesia Masuk Radar Perfilman Eurasia 18 Juni 2026, 20:43 WIB

Indonesia Diundang Bergabung dalam Musim Baru Open Eurasian Film Award “Diamond Butterfly” 18 Juni 2026, 20:38 WIB

Malaysia Kecam Rencana Israel Kuasai 70 Persen Wilayah Gaza 3 Juni 2026, 16:07 WIB

Pameran Foto Virtual EAEU Day 2026 Digelar di Indonesia, Rusia dan 4 Negara Eurasia Soroti Pertumbuhan Ekonomi 29 Mei 2026, 21:24 WIB

You can share this post!