Palm Stearin Kini Jadi Sumber Energi Terbarukan untuk Bahan Bakar Pesawat dan Diesel
Sumber Foto: Hai Sawit
Teknologi

Palm Stearin Kini Jadi Sumber Energi Terbarukan untuk Bahan Bakar Pesawat dan Diesel

Jakarta, HAISAWIT – Peneliti Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan teknologi dekarboksilasi sabun basa Magnesium-Seng (Mg-Zn) guna mengonversi palm stearin menjadi bahan bakar hidrokarbon. Proses ini menghasilkan energi terbarukan di Indonesia.

Inovasi dekarboksilasi ini dilakukan melalui pemanasan sabun basa pada suhu 350°C dan tekanan atmosfer. Metode tersebut mampu mengubah turunan minyak sawit menjadi bahan bakar diesel serta avtur tanpa bantuan hidrogen luar.

Dilansir dari laman bpdb.or.id, Kamis (19/02/2026), hasil pengujian menunjukkan rendemen produk cair mencapai 62% berat dari total umpan. Konversi sabun basa Mg-Zn menjadi bahan bakar nabati tersebut mencatatkan angka efisiensi sebesar 73%.

Teknologi ini menggunakan bahan baku palm stearin yang memiliki kandungan asam palmitat sekitar 62,8% berat. Komposisi asam lemak jenuh yang tinggi membuat komoditas ini sangat potensial untuk diproses menjadi hidrokarbon cair.

Asam palmitat (C16:0) mencapai 62,8%.

Asam oleat (C18:1) tercatat 26,4%.

Asam stearat (C18:0) sebanyak 5,7%.

Asam linoleat (C18:2) sebesar 2,8%.

Proses dekarboksilasi sabun basa dipandang lebih ekonomis daripada metode hidrotreatment (liquid phase hydrotreatment). Teknik konvensional memerlukan konsumsi hidrogen dalam jumlah besar serta kondisi operasi yang sangat berat dan mahal.

Sabun basa dibentuk melalui proses saponifikasi minyak dengan natrium hidroksida (NaOH) serta penambahan larutan logam. Logam Mg-Zn bertindak sebagai katalisator langsung yang memacu pemutusan ikatan oksigen pada molekul lemak.

Senyawa kimia tersebut dipanaskan dalam reaktor batch kaca selama 5 jam. Selama reaksi berlangsung, gas nitrogen dialirkan untuk membuang udara agar proses dekarboksilasi berjalan optimal menghasilkan produk hijau.

Produk cair bio-hidrokarbon: 62%.

Residu padat: 19,39%.

Air: 10,53%.

Kandungan gas: Terdeteksi CO2, H2, dan CH4.

Analisis laboratorium membuktikan bahwa produk yang dihasilkan merupakan campuran kompleks parafin normal, iso-parafin, serta berbagai jenis olefin. Rantai karbon dominan berada pada rentang C8 hingga C19 yang sesuai standar bahan bakar.

Kandungan n-heptadekana (n-C17) menjadi fraksi terbesar dengan angka 18,9% mol dalam produk cair. Selain itu, fraksi n-pentadekana (n-C15) juga muncul signifikan dalam distribusi molekul hidrokarbon hasil dekarboksilasi tersebut.

Penggunaan kombinasi logam Magnesium (Mg) dan Seng (Zn) bertujuan menekan pembentukan senyawa olefin berlebih. Seng berfungsi sebagai katalis hidrogenasi yang memicu pembentukan iso-alkana sehingga meningkatkan kualitas stabilitas bahan bakar nabati.

Produk hijau hasil olahan palm stearin ini memiliki nilai asam yang sangat rendah yaitu 0,4 miligram KOH per gram sampel. Titik beku di bawah 5°C menandakan kelayakan teknis untuk digunakan sebagai pengganti solar.

Inovasi anak bangsa ini menjadi langkah strategis guna memenuhi target pemanfaatan energi baru terbarukan di tanah air. Pemanfaatan palm stearin meningkatkan nilai tambah kelapa sawit secara signifikan dan mandiri.***