Portal News Day - Ekonomi
Lihat Lainnya
Risiko Dibalik Naiknya Pendapatan Ojol
25/06/2026
Tak Hanya Sekolah dan Rumah Sakit, Muhammadiyah Akan Bangun Ribuan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik
25/06/2026
Sempat Ragu, Guru Sekolah Minggu Ini Temukan Toleransi di Kampus Muhammadiyah
24/06/2026
Abdul Mu’ti Kenang Beasiswa Supersemar, Ajak Generasi Muda Teladani Semangat Pendidikan Soeharto
24/06/2026
Redaksi
IBTimes.ID – Muhammadiyah terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pemberdayaan kelompok rentan, khususnya pemberdayaan difabel, melalui pendekatan yang terintegrasi antara aspek ekonomi dan kesehatan mental. Upaya ini merupakan implementasi dari amanat Muktamar ke-48 Muhammadiyah yang menekankan pentingnya penguatan kelompok akar rumput secara berkelanjutan.
Salah satu langkah konkret dilakukan oleh Anggota Bidang Daerah 3T dan Komunitas Khusus Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Arni Surwanti. Selain berperan di Persyarikatan, Arni juga merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang aktif dalam program pengabdian masyarakat.
Dalam bidang ekonomi, Arni bersama tim MPM dan dosen UMY mendampingi Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Difabel di Sleman. Kelompok ini mengembangkan usaha peternakan ayam petelur berbasis kewirausahaan sosial yang mengintegrasikan aspek ekonomi, kesejahteraan hewan, dan keberlanjutan lingkungan.
“Seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap produk pangan sehat dan beretika, usaha ini memiliki potensi untuk dikembangkan ke skala yang lebih besar,” ujar Arni.
Pendampingan yang dilakukan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyasar aspek manajerial. Bersama Ahim Abdurahim, Arni memperkuat delapan aspek pengelolaan usaha, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, operasional, hingga manajemen risiko dan biosekuriti.
Melalui pendekatan audit manajemen, program ini diharapkan mampu meningkatkan kinerja usaha sekaligus memperluas dampak sosial bagi komunitas difabel.
Penguatan Kesehatan Mental Difabel
Selain ekonomi, Muhammadiyah juga memberikan perhatian serius terhadap isu kesehatan mental terutama untuk pemberdayaan difabel. Arni menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental masih membutuhkan peningkatan literasi serta akses layanan yang lebih inklusif.
Baca Juga: Presiden Prabowo Resmi Tetapkan Skema Kenaikan Upah Minimum 2026
“Diperlukan kerangka masyarakat dan kebijakan yang inklusif agar penyandang disabilitas mental tidak mengalami diskriminasi, pasung, atau isolasi sosial,” tegasnya.
Sebagai bagian dari solusi, Arni bersama Retno Widodati mengembangkan program terapi berbasis aktivitas fisik dan psikologis. Salah satu inovasi yang diterapkan adalah Equine-Assisted Therapy (EAT), yaitu terapi yang memanfaatkan interaksi antara manusia dan kuda.
Metode ini dinilai mampu meningkatkan kondisi fisik, psikologis, sosial, serta kemampuan kognitif penyandang disabilitas. Program tersebut juga melibatkan kolaborasi internasional, di antaranya dengan Prof. Ryuhei Sano dari Hosei University Jepang dan Muthusamy dari Riding for Disability Association Malaysia.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan difabel tidak dapat dilakukan secara parsial. Selain penguatan ekonomi, aspek kesehatan mental menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.
Melalui berbagai program tersebut, Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk menghadirkan model pemberdayaan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masyarakat.
(NS)
Bagikan
Artikel Sebelumnya
Trump Perpanjang Deadline Iran Buka Selat Hormuz jadi 10 Hari
Artikel Selanjutnya
Halal Bihalal dan Jejak Muhammadiyah dalam Modernisasi Tradisi Silaturahmi
Peristiwa
Indonesia Tingkatkan Kemitraan Dagang dengan Rusia
15/05/2026
Kini, QRIS Bisa Dipakai Transaksi di China
30/04/2026
Perkuat Pemberdayaan Difabel dan Petani, MPM Muhammadiyah Salurkan Kado Ramadan
09/03/2026
TINGGALKAN KOMENTAR
Komentar:
Nama:
Email:
Website:
Simpan nama, email, dan situs web saya di browser ini untuk lain kali saya berkomentar.