Portal News Day - Pasca-gugurnya Ayatollah Ali Khamenei, Majelis Pakar Iran menetapkan putra keduanya, Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Penunjukan ini mengindikasikan kemenangan faksi garis keras dalam mempertahankan ideologi Republik Islam di tengah ketegangan dengan Barat.
Mojtaba Khamenei lahir pada tahun 1969 di Mashhad. Ia tumbuh di lingkungan yang dipenuhi oleh gerakan oposisi terhadap rezim Shah, dan pernah berperan sebagai sukarelawan dalam Perang Iran-Irak pada 1980-an.
Secara akademis, Mojtaba menempuh pendidikan di Qom, pusat teologi Syiah, dan belajar di bawah tokoh-tokoh agama konservatif. Meskipun kini menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi, gelar keagamaannya, Hojjatoleslam, tidak sesuai dengan tradisi yang mengharuskan gelar Ayatollah untuk posisi tersebut. Namun, dukungan politik yang kuat memfasilitasi pencapaiannya.
Mojtaba dikenal sebagai sosok yang berpengaruh di balik layar, terhubung erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan mengelola jaringan bisnis yang terkait dengan lembaga-lembaga keamanan Iran. Ia juga terlibat dalam pengambilan keputusan mengenai kebijakan luar negeri dan program nuklir.
Ia merupakan penentang keras terhadap reformis dan menolak normalisasi hubungan dengan Barat, yang mengakibatkan sanksi dari Departemen Keuangan AS pada tahun 2019.
Penunjukan Mojtaba menghadapi tantangan, termasuk kritik terhadap sentimen anti-dinasti dan tuntutan kebebasan dari generasi muda Iran. Meskipun demikian, pemilihan oleh 88 ulama senior Majelis Pakar menunjukkan komitmen Iran untuk tetap pada jalur perlawanan terhadap musuh-musuhnya.