Mengenang Doel Arnowo: Jejak Perjuangan Nasional di Rumah Dempo Malang
MALANG – Napak tilas sejarah Warita Project bersama Malang Offboundary Labs yang sebelumnya menelusuri jejak Tugu Malang dan peran Doel Arnowo dalam dinamika revolusi dan kampus Universitas Brawijaya, berlanjut ke ruang yang lebih domestik: rumah-rumah pergerakan di Kota Malang.
FX Domini BB Hera, sejarawan yang juga narasumber utama acara napak tilas sejarah Warita Project menjelaskan, di Jalan Dempo Nomor 13, tersimpan lapisan sejarah yang memperlihatkan sisi personal sekaligus politik seorang tokoh nasionalis Jawa Timur.
Menurutnya, nama Doel Arnowo lebih kerap diingat sebagai wali kota Surabaya pascarevolusi dan sahabat dekat Soekarno sejak remaja. Namun Malang menyimpan jejak penting hidupnya: sebagai ruang aktivitas politik, tempat singgah keluarga, simpul jejaring pergerakan, hingga kediaman yang dikenal sebagai “rumah perjuangan”.
Dari Aktivis 1920-an ke Lingkar Nasionalis
Sejak dekade 1920-an, Doel Arnowo telah aktif dalam gerakan nasionalis. Ia menyusun Kamus Marhaen sebagai bahan ajar kader Partai Nasional Indonesia (PNI) dan aktivis anti-kolonial serta anti-feodalisme. Isi buku yang dinilai progresif itu membuat pemerintah kolonial menyitanya dan menjatuhkan hukuman penjara 18 bulan kepadanya.
Relasinya dengan Soekarno tidak sekadar hubungan politik, melainkan persahabatan personal yang terjalin sejak muda. Dalam perjalanan pergerakan, keduanya berada dalam jejaring nasionalis yang sama, saling mendukung secara ideologis maupun praktis.
Jalan Dempo 13: Ruang Transit Gagasan
Rumah Doel Arnowo di Jalan Dempo Nomor 13, Kota Malang, menjadi simpul penting jejaring nasionalis progresif, terutama saat ia menjabat Rektor pertama Universitas Brawijaya pada 1963. Rumah tersebut berfungsi ganda: sebagai kediaman pribadi sekaligus ruang diskusi politik dan pertemuan informal kader.
Di sebelahnya, rumah Soetopo di Jalan Dempo Nomor 15 turut menjadi bagian dari ekosistem pergerakan. Soetopo dikenal sebagai aktivis anti-kolonial yang memiliki kedekatan dengan keluarga Soekarno, termasuk Soekarmini, kakak kandung Bung Karno.
FX Domini BB Hera yang juga dosen di Universitas Ciputra Surabaya dan guru SMA HelloMotion menyebut rumah di Dempo 13 bukan sekadar tempat tinggal.
“Rumah di Jalan Dempo 13 itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simpul penting jejaring nasionalis progresif,” ujarnya.
Menurutnya, ruang-ruang domestik seperti itu menjadi tempat gagasan kebangsaan dirawat jauh dari sorotan publik.
Lingkar aktivitas di kawasan Dempo mencerminkan jejaring lintas kota. Lasmidjah, kerabat keluarga Soetopo, melalui pernikahannya dengan Hardi—Wakil Perdana Menteri era 1950-an dari PNI—menghubungkan jejaring Dempo dengan lingkar kader nasionalis di Bandung periode 1930-an. Relasi ini memperkuat posisi Dempo 13 sebagai ruang transit gagasan, tempat bertemunya politik, persahabatan, dan kehidupan sehari-hari.
Revolusi dan “Bumi Hangus” 1947
Pada 1947, Malang mengalami peristiwa “Bumi Hangus”, ketika sejumlah bangunan strategis dihancurkan agar tidak dimanfaatkan kembali oleh Belanda. Di kawasan Dempo, Biara Ordo Karmel yang berada di depan rumah Doel Arnowo termasuk bangunan yang terdampak periode kritis tersebut. Peristiwa ini menjadi latar historis yang menguatkan posisi kawasan Dempo sebagai ruang strategis dalam masa revolusi.
Persahabatan dan Politik yang Manusiawi
Kedekatan Doel Arnowo dengan Soekarno kerap digambarkan seperti saudara. Ia disebut turut membantu secara finansial aktivitas politik sahabatnya itu. Namun relasi tersebut juga pernah diuji, termasuk saat Doel Arnowo menyatakan ketidaksetujuannya atas pernikahan Soekarno dengan Hartini. Keduanya sempat tidak bertemu selama sekitar setahun, tetapi persahabatan tetap terjaga.
Sapaan “Cak Doel” dari Soekarno dan “Cak Koes” dari Doel Arnowo. Cak Koes merujuk nama lahir Soekarno, Koesno. Ini menunjukkan kedekatan yang berakar sejak masa muda di Surabaya.
Kampus, Bisnis, dan Meredupnya Nama
Pada masa kolonial, Doel Arnowo pernah diberhentikan sebagai pegawai pos, telepon, dan telegram karena aktivitas politiknya. Ia kemudian mengembangkan usaha tekstil, pewarna batik, dan impor barang. Peran publiknya berlanjut ketika dipercaya menjadi Rektor pertama Universitas Brawijaya di Malang, meletakkan fondasi awal institusi tersebut.
Pasca-1965, perubahan politik nasional membuat figur-figur yang dekat dengan Soekarno perlahan tersisih dari panggung publik. Nama Doel Arnowo ikut meredup, meski rumah Dempo 13 tetap dikenal sebagai ruang pertemuan aktivis, termasuk mahasiswa pada dekade 1970-an.
Pada 1969, jenazah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis sempat disemayamkan di rumah keluarga Soetopo, Jalan Dempo 15. Peristiwa ini memberi makna simbolik: rumah-rumah yang dahulu menjadi ruang diskusi nasionalisme generasi 1920–30-an juga menjadi ruang duka generasi 1960-an.
Membaca Sejarah dari Ruang Domestik
Membaca Doel Arnowo melalui rumah perjuangannya di Jalan Dempo 13 menggeser perspektif tentang sejarah. Perjuangan tidak hanya berlangsung di podium atau medan tempur, tetapi juga di ruang tamu dan meja makan.
Adi Arnowo, cucu Doel Arnowo, menuturkan, “Bagi kami sekeluarga, rumah di Dempo 13 bukan rumah biasa, karena di situlah kakek saya merawat persahabatan, perjuangan, dan pilihan politiknya dalam keseharian.”
Melalui rumah Dempo 13, Malang menyimpan arsip sunyi tentang seorang nasionalis yang hidup di persimpangan politik besar dan kehidupan sehari-hari. Dari ruang domestik itulah jejak pergerakan dibaca ulang—sebagai bagian dari sejarah kota dan bangsa. (*)




