Mahasiswa VCD UC Simulasi Difabel untuk Desain Inklusif di Bulan Ramadan
Surabaya, VIVA Jatim – Ramadan menjadi momentum berbeda bagi mahasiswa Program Studi Visual Communication Design (VCD) Universitas Ciputra Surabaya.
Lewat mata kuliah Future Design, mereka tak hanya belajar memprediksi tren masa depan, tetapi juga menjalani simulasi menjadi penyandang disabilitas sebagai bagian dari riset berbasis empati.
Selama sekitar satu setengah jam, mahasiswa menutup mata dan telinga, menggunakan kruk, tongkat, hingga kursi roda untuk merasakan langsung keterbatasan fisik saat beraktivitas di lingkungan kampus.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari design research yang terhubung dengan kolaborasi akademik bersama Xi’an Jiaotong Liverpool University.
Dari simulasi itu, mahasiswa mengumpulkan data dan insight untuk merumuskan solusi desain yang lebih inklusif di masa depan.
Kegiatan ini terasa selaras dengan nilai Ramadan yang menekankan empati dan kepedulian sosial. Melalui pendekatan experiential learning, mahasiswa diajak memahami bahwa desain bukan sekadar estetika, melainkan alat untuk menghadirkan kemudahan dan kesetaraan akses bagi semua kalangan.
Ketua Program Studi VCD Universitas Ciputra, Christian Anggrianto, S.Sn., M.M., Ph.D., menegaskan bahwa empati menjadi fondasi utama dalam future thinking.
“Ramadan mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap sesama. Dalam Future Design, mahasiswa belajar bahwa solusi masa depan harus berangkat dari pemahaman yang mendalam terhadap pengalaman manusia. Dengan merasakan langsung keterbatasan fisik, mereka memperoleh insight autentik untuk merancang desain yang inklusif dan berdampak,” ujarnya. Rabu 4 Maret 2026.
Dari simulasi tersebut, mahasiswa mengidentifikasi sejumlah tantangan, mulai dari kesulitan navigasi ruang, keterbatasan akses informasi visual dan audio, hingga hambatan mobilitas di area publik kampus. Hasil observasi itu selanjutnya dikembangkan menjadi rekomendasi desain komunikasi visual, sistem informasi, hingga konsep ruang yang lebih ramah difabel.
Christian berharap pendekatan ini mampu mencetak desainer masa depan yang tak hanya kreatif, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan tanggung jawab terhadap isu inklusivitas.
Di bulan yang identik dengan refleksi dan kepedulian, pembelajaran ini menjadi pengingat bahwa desain memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan setara.




