Mahasiswa ULM Kembangkan Sensor IoT untuk Mitigasi Banjir di Cempaka
Portal News Day - REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Upaya mitigasi banjir kilat di Kelurahan Cempaka, Kota Banjarbaru, mendapat dukungan dari kalangan akademisi.
Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menghadirkan inovasi teknologi melalui Program Bina Desa Berdampak dengan fokus pada penerapan water level sensor berbasis Internet of Things (IoT) untuk sistem peringatan dini (early warning system).
Program lintas disiplin itu melibatkan mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK).
Kegiatan tersebut dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan M. Ikhwan Najmi.
Lihat Juga :
Public Communication Summit Kalsel 2026 Perkuat Sinergi Hadapi Tantangan Informasi di Era Digital
Peserta Didik PKBM Insan Sekumpul di LPKA Martapura Ikuti Senam Bersama, Tingkatkan Kebugaran dan Semangat Belajar
Pemprov Kalsel Perkuat Sinergi Pengelolaan Isu dan Reputasi di Era Digital
Mulai 8 Juni, Arus Truk Dialihkan Selama Proyek Jembatan Cambai
Ketua Kelompok, Muhammad William Sabili, menjelaskan bahwa inovasi yang dikembangkan dirancang untuk membantu masyarakat mendeteksi potensi banjir lebih cepat.
“Kami merancang alat pendeteksi banjir menggunakan sensor jarak JSN dan water level sensor. Dengan sistem ini, warga dapat mengetahui kenaikan debit air lebih cepat sehingga bisa melakukan langkah antisipasi,” ujarnya.
Selain merancang dan memasang perangkat pendeteksi ketinggian air, tim mahasiswa juga melakukan pendekatan edukatif kepada masyarakat.
Penyuluhan kebencanaan digelar bersama Ketua RT dan RW setempat, disertai metode pre-test dan post-test guna mengukur peningkatan pemahaman warga terkait mitigasi banjir.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman sekaligus antusiasme masyarakat terhadap program tersebut.
Tak hanya berfokus pada teknologi, mahasiswa turut menggelar kegiatan gotong royong bersama warga di Sungai Kertak Baru, Cempaka.
Mereka menghibahkan tempat sampah yang bersumber dari dana program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebagai bentuk dukungan terhadap pengelolaan lingkungan dan pencegahan penyumbatan aliran air.
Program tersebut disusun berdasarkan hasil identifikasi kondisi wilayah Cempaka yang dikenal rawan banjir kilat.
Mahasiswa terlebih dahulu berdiskusi dengan warga untuk memetakan persoalan sebelum merumuskan solusi berbasis teknologi yang dipadukan dengan edukasi masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya menerapkan keilmuan di bidang sensor teknologi, manajemen program, serta edukasi kesehatan masyarakat, tetapi mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah secara langsung di lapangan.
ULM sendiri menyatakan komitmennya menjaga keberlanjutan program melalui integrasi dalam skema MBKM dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mendorong lahirnya inovasi berbasis riset yang berdampak nyata.
Program Bina Desa Berdampak ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual, di mana mahasiswa hadir sebagai mitra solusi bagi masyarakat serta memperkuat peran perguruan tinggi dalam mitigasi bencana berbasis teknologi dan kolaborasi sosial.




