Live Streaming: Era Baru Interaksi dan Hiburan Digital
Sumber Foto: Kompasiana.com
Hiburan

Live Streaming: Era Baru Interaksi dan Hiburan Digital

Gelombang digitalisasi terus mengubah cara masyarakat berinteraksi. Kini, ruang komunikasi tidak lagi terbatas pada pesan teks atau unggahan foto, melainkan hadir dalam bentuk siaran langsung yang interaktif. Live streaming menjelma menjadi panggung baru bagi masyarakat digital, tempat hiburan, percakapan, dan bahkan transaksi ekonomi berlangsung secara real time.

Fenomena ini tampak jelas di berbagai platform, mulai dari TikTok Live, YouTube Live, Twitch, hingga kanal e-commerce seperti Shopee Live dan Tokopedia Play. Melalui layar ponsel, masyarakat dapat menyapa kreator favorit, mengikuti lelang produk, atau sekadar menikmati konten spontan yang terasa lebih “nyata”.

Menurut laporan dari We Are Social & DataReportal (Q3 2023), sekitar 34,9% pengguna internet di Indonesia dalam rentan usia 16-64 tahun menonton live streaming sebagai salah satu aktivitas online bulanan. Data ini menunjukan bahwa live streaming bukan lagi sekadar tren sementara, namun telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup komunikasi masyarakat modern, sebab digunakan secara rutin untuk berinteraksi, berbagi informasi, hiburan, promosi hingga membangun kepercayaan dan kedekatan sosial.

Komunikasi Dua Arah dalam Ruang Virtual

Berbeda dengan media tradisional, live streaming mendorong percakapan langsung antara kreator dan pemirsa mereka, dimana audiens telah berubah dari sekadar pengamat menjadi peserta aktif yang terlibat melalui komentar, emoji dan bahkan donasi virtual sehingga kehadiran mereka terasa real time.

Fenomena ini menunjukkan transisi luar biasa dari komunikasi satu arah ke dialog yang lebih menarik dan partisipatif, dimana dalam ranah interaksi digital seperti live streaming dialog tidak lagi sepenuhnya berada di tangan penyiar, namun sebaliknya dialog berkembang melalui upaya kolaboratif dari komunitas yang terlibat.

Wilbur Schramm, dalam bukunya tahun 1954 yang berjudul The Process and Effects of Mass Communication, menekankan bahwa komunikasi yang efektif pada dasarnya adalah jalan dua arah, lalu Schramm menantang perspektif tradisional yang memandang komunikasi hanya sebagai pertukaran langsung "pengiriman pesan" dari satu pihak ke pihak lain, dan ia menyoroti sifat dinamis komunikasi, di mana pengirim dan penerima terus menerus bertukar peran, serta terlibat dalam pertukaran yang kaya melalui umpan balik (feedback). Teori ini mengungkapkan bahwa komunikasi yang efektif tidak hanya bergantung pada apa yang dikatakan tetapi juga pada seberapa baik kedua individu dapat memahami dan bereaksi satu sama lain dalam lingkungan sosial yang mereka bagi.

Teori ini sangat relevan dengan live streaming sebab ketika seorang penyiar menanggapi komentar atau pertanyaan secara langsung, terjadi pertukaran makna yang dinamis yang menciptakan percakapan yang hidup seperti yang ditunjukkan Schramm dalam model komunikasinya. Oleh karena itu, melalui teori ini kita bisa melihat bahwa komunikasi telah berevolusi, di mana komunikasi tidak lagi hanya berfokus pada pembicara tetapi lebih pada proses kolektif pembentukan makna.

Tasya Monica, seorang live streamer commerce dari merek kosmetik O.TWO.O menyetujui hal ini, sebab ia berpendapat bahwa berbicara langsung kepada audiens adalah kunci keberhasilan siaran.

“Kalau penonton merasa disapa dan tanggapannya dibaca, mereka jadi lebih betah. Saya sering menyebut nama mereka atau menjawab pertanyaan seputar produk. Kadang dari situ obrolan berkembang, dan penjualan ikut naik. Rasanya seperti ngobrol sama teman sendiri, bukan sekadar jualan.” ujar Tasya dalam wawancara melalui panggilan video tanggal 2 November 2025.