Koperasi BANK Difabel: Pemberdayaan Ekonomi untuk Penyandang Disabilitas oleh Muhammadiyah
Selasa (11/3) sore itu Sajimin, seorang tunadaksa yang kesehariannya bekerja sebagai tukang service barang elektronik, baru saja pulang dari toko elektronik untuk bersiap menggarap service panggilan ke dusun sebelah. Pak Jimin, sapaan akrabnya, merupakan anggota sebuah koperasi di Kabupaten Sleman yang seluruhnya dikelola oleh difabel. Namanya, Koperasi Bangun Akses Kemandirian (BANK) Difabel.
Saat ditemui di Ngaglik, kediamannya, rupanya ia sudah bisa mengenali jika yang dijumpainya adalah seseorang dari Muhammadiyah lewat lanyard yang menggantung di leher. Organisasi yang dikenalnya ketika para difabel di tempatnya mulai didampingi dan diberdayakan untuk membangun Koperasi BANK Difabel.
Sudah sejak 2015, kata Pak Jimin memulai, Muhammadiyah mendampingi kami. Waktu itu, lewat Ahmad Ma’ruf selaku Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Sebelumnya, memang sudah ada kumpulan para difabel itu. Akan tetapi belum ada program yang memberdayakan mereka. Barulah pada bulan Mei 2015, Ahmad Ma’ruf yang memiliki rekam jejak dalam pemberdayaan masyarakat mengajak mereka untuk sering berkumpul dan membuat ide-ide kreatif.
Dari inisiasi Pak Ma’ruf itu, mereka mendapatkan pendampingan. Dari yang awalnya tidak paham apa-apa tentang koperasi sampai sekarang sudah bisa jalan sendiri.
“Kita kan nol puthul,” kata Pak Jimin. “Bukan basic dari orang-orang kuliahan, sekolah yang mentok SMA, SMP. Tapi dengan berkat dorongan MPM mereka ngelatih segala macam. Alhamdulillah, yang dulunya enggak bisa apa-apa, yang pakai IT ya pintar. Yang dulu enggak bisa public speaking, ya alhamdulillah bisa,” lanjutnya.
Bagi Sajimin, Muhammadiyah adalah sebuah anugerah. “Sebuah organisasi besar yang betul-betul memperhatikan kaum-kaum marginal. Ibaratnya, kita kan kaum-kaum marginal dan terpinggirkan, kita diangkat dengan MPM itu kan membentuk badan keuangan. Itu suatu anugerah,” ujarnya.
Jembatan Menuju Dunia Luar
Dulunya, lanjut Pak Jimin saat ditanya seberapa penting peran Muhammadiyah, “Kita enggak punya apa-apa. Kita enggak kenal siapa-siapa. Tapi lewat itu kan kita bisa dikenal orang,” imbuhnya.
Jika ada acara Muhammadiyah, mereka sering dilibatkan. Dari sana mereka bisa mengenal dunia luar. Itulah yang dirasakan Sajimin.
Sajimin mengaku sangat senang bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai kalangan melalui kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh MPM. “Dari pemulung, asongan, tukang becak, jadi satu. Asyik kan,” ungkapnya.
Diketahui, koperasi yang beralamat di Panggungsari, RT. 09, RW. 23, Nomor 185c, Sariharjo, Ngaglik, Sleman itu kini telah memiliki anggota sebanyak 105 orang. Seluruhnya, baik anggota maupun pengurusnya adalah penyandang disabilitas.
Penggerak Perputaran Ekonomi Masyarakat Difabel di Yogyakarta
Tak hanya terbatas di Ngaglik dan Sleman saja. Sajimin bercerita, anggota Koperasi Bank Difabel kini telah meluas hingga ke Kota Yogyakarta dan Kulonprogo. Bisa dibilang, seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta, kecuali Gunungkidul.
Tak heran kian hari kian meluas. Sajimin menjelaskan, Koperasi ini memang tujuannya sebagai perputaran roda ekonomi bagi para difabel yang terkelola dengan baik oleh kaum difabel itu sendiri.
Hingga hari ini saja, para anggota yang masuk mayoritas berdasarkan kesadaran sendiri dan inisiatif untuk berdaya. Meski begitu, sebagai pengurus, Sajimin juga harus selektif.
“Nggak sembarang orang bisa masuk. Karena memang betul-betul orang yang berkopenten. Satu, usahanya pengen maju. Terus mereka mau bergabung itu ya pengen saling gotong royong,”tuturnya.
Selain itu, yang boleh bergabung hanyalah orang penyandang disabilitas. Atau, berasal dari keluarga difabel.
Sejumlah 105 anggota yang terdata sekarang, mayoritas dari mereka adalah wirausaha yang hidup dari usaha rumahan. Dari kerajinan, ibaratnya kulit ikan pari, dompet, jahit dan sampai jualan online.
Ada dua layanan yang disediakan bagi masyarakat difabel. Meski dikenal sebagai KSP, Koperasi BANK Difabel sebetulnya secara legal memiliki fungsi sebagai Koperasi Pemasaran yang di dalamnya ada layanan simpan pinjam.
Tetapi untuk masalah pemasaran, saat ini masih dijual secara sendiri-sendiri, belum lewat koperasi. Rencananya, ke depan koperasi juga akan difungsikan sebagai wadah penyaluran produk-produk yang dihasilkan dari tangan para difabel.
Muhammadiyah Komitmen Memberdayakan
Apa yang dilakukan Muhammadiyah di Ngaglik ini, Sajimin berbicara serius, benar-benar telah memberi harapan bagi kaum marginal, difabel. Bentuk pemberdayaan yang dilakukan Muhammadiyah punya cara tersendiri.
“Kita sekarang itu dianggap gini mas, seumpama anak kecil, itu sudah bisa jalan yang cukup diawasi. Enggak di manja-manja terus, itu salah satunya,” jelas Sajimin.
Memang, lanjutnya, komitmen Muhammadiyah itu begitu. Dulu awal kita di dampingi. Tapi kalau sudah berdiri, sudah jalan, mereka hanya mengingatkan. Tapi kalo ada program baru, baru mereka mengajak membuat gebrakan ide.
Jadi sudah seperti keluarga. “Yang jelas, kerja sama dengan MPM itu mengasyikan. Karena misinya sosial itu kan terasa banget. Dan mereka juga nggak mengenal ibaratnya suku, ras, dan agama. Intinya umatlah. Supaya ekonominya meningkat. Bagus gitu. Ya jarang-jarang sih ada dampingan, terus mereka itu damping yang dari nol itu bertahun-tahun,” tegasnya.
Dengan pendampingan dari Muhammadiyah ini, secara ekonomi, semenjak punya KSP orang-orang difabel menjadi semakin semangat bergerak.
“Signifikan. Kalau kendaraan bahkan dulunya nggak punya, sekarang dia semua punya usahanya. Dulunya biasa ya. Karena punya modal di KSP itu ya cara beli-belanja. Berani buka usaha. Berani belanja banyak,” ujar Sajimin.
Diketahui, pada tahun 2023, BANK Difabel mendapatkan Anugerah Revolusi Mental dari Kementrian Koordinator PMK RI untuk kategori Pembangunan Inklusif.
Selain BANK Difabel, Sajiman mulai bercerita sebelum ia berangkat ke rumah pelanggannya yang telah menunggu jasa service elektroniknya. Tentang sebuah komunitas difabel yang juga mendapatkan pendampingan dari Muhammadiyah. Selain BANK Difabel yang berdiri di Ngaglik, katanya, di daerang Gamping sana juga berdiri sebuah kumpulan bernama Gading (Galang Difabel Gamping). (janu)




