Komunikasi Visual-gestural Tingkatkan Aksesibilitas bagi Difabel
Sumber Foto: RRI.co.id
Sosial

Komunikasi Visual-gestural Tingkatkan Aksesibilitas bagi Difabel

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Komunikasi visual gestural berperan penting dalam meningkatkan aksesibilitas bahasa bagi penyandang disabilitas. Komunikasi gestural ini khususnya difabel rungu dan penyandang disabilitas dengan gangguan bahasa.

"Komunikasi visual-gestural memanfaatkan bahasa isyarat, ekspresi wajah, serta gerakan tubuh sebagai media utama penyampaian pesan," Kata Lisya Ramitha Putri, S.Pd.I., M.Pd., dosen UIN Antasari Banjarmasin, dalam Program Ruang Disabilitas dan Inklusi RRI Pro 1 Banjarmasin, Sabtu, 7 Februari 2026.

Menurutnya, pendekatan ini bukan sekadar alat bantu, melainkan bahasa yang utuh dan bermakna. Bagi difabel rungu dan individu dengan gangguan bahasa, komunikasi visual-gestural sangat efektif untuk memahami dan menggunakan bahasa.

"Bahasa isyarat memiliki kosakata, struktur, dan makna yang kuat,” ujar Lisya.

Ketepatan gestur, posisi tubuh, dan ekspresi wajah sangat menentukan keberhasilan komunikasi. Kesalahan kecil dalam gerakan, kata Lisya, dapat mengubah makna pesan yang disampaikan.

Lisya juga menekankan pentingnya lingkungan yang ramah visual. Konteks visual yang tepat akan membantu difabel merasa lebih nyaman, dan dihargai,

"Kontek visual lainnya mampu berpartisipasi aktif dalam pendidikan, layanan publik, serta kehidupan sosial," ucapnya.

Dalam dialog ini, penyandang disabilitas juga berbagi pengalaman. Wati, tunanetra asal Tanjung, mengaku kurang nyaman saat berobat ke puskesmas karena minimnya respons lingkungan. Sementara Basuki Rahman dari Amuntai menilai dirinya kerap tidak dihargai dalam interaksi sosial.

Menanggapi hal tersebut, Lisya menekankan bahwa komunikasi tidak bisa diseragamkan. Setiap individu memiliki kebutuhan berbeda.

"Sehingga diperlukan kecermatan, empati, dan kesadaran bersama agar pesan dapat dipahami dan tidak menimbulkan miskomunikasi," ujarnya.

Selain dalam interaksi langsung, komunikasi visual-gestural juga dapat diperkuat melalui teknologi. Seperti video bersubtitel, transkripsi, aplikasi bahasa isyarat, hingga media visual yang ramah difabel.

“Pendekatan ini mampu mendorong kesetaraan dan inklusi lintas budaya,” ujar Lisya, menerangkan.

Diakhir dialog Lisya menegaskan bahwa membangun lingkungan yang inklusif adalah tanggung jawab bersama. Ketika akses bahasa terbuka, difabel tidak hanya dipahami, tetapi juga dihargai sebagai bagian setara dalam masyarakat.​