Kesenjangan Perlindungan Siber Meningkat di Asia-Pasifik
Internasional

Kesenjangan Perlindungan Siber Meningkat di Asia-Pasifik

Portal News Day - Media Asuransi, GLOBAL – Kesenjangan perlindungan siber di Asia Pasifik (APAC) semakin melebar. Hal itu lantaran banyaknya konsumen memperkirakan kejahatan siber akan berdampak pada rumah tangga mereka, namun praktik keamanan daring mereka sering kali gagal.

Melansir Insurance Asia, Senin, 16 Maret 2026, Lanskap Keamanan Siber APAC 2026 oleh bolttech menemukan sebanyak 85 persen responden menilai kebiasaan keselamatan daring mereka baik atau sangat baik, sementara 44 persen secara konsisten mempraktikkan perilaku keamanan daring yang kuat.

Hal ini menyisakan kesenjangan sebesar 41 persen antara praktik keselamatan yang dirasakan dan yang sebenarnya dan pada saat yang sama 39 persen responden mengatakan mereka pernah menjadi korban kejahatan dunia maya.

Hampir dua pertiga atau 64 persen memperkirakan seseorang di rumah mereka akan menjadi korban kejahatan dunia maya dalam satu tahun ke depan. Risiko ini semakin besar dengan meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan dalam penipuan, yang diyakini oleh 92 persen responden akan membuat penipuan lebih sulit dideteksi.

Perlu diketahui, paparan terhadap kejahatan dunia maya berbeda-beda di setiap wilayah. Negara-negara berkembang seperti Filipina, Vietnam, Thailand, dan Indonesia melaporkan paparan penipuan dan insiden siber yang lebih tinggi.

Sebaliknya, negara-negara maju, termasuk Korea Selatan dan Jepang, mencatat tingkat kepercayaan yang lebih rendah terhadap institusi dan penyedia layanan untuk menjaga keamanan data pribadi.

Kerugian finansial yang terkait dengan kejahatan dunia maya telah berdampak pada rumah tangga di seluruh wilayah. Hal ini terbukti dari separuh responden di pasar negara berkembang yang mengatakan pernah mengalami kejahatan dunia maya dan 71 persen lainnya dari korban tersebut melaporkan kerugian finansial.

Di negara maju, insiden lebih jarang terjadi namun lebih memakan biaya, dengan sekitar satu dari empat korban kehilangan lebih dari US$500 per insiden. Studi ini juga menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap layanan perlindungan siber, termasuk produk terkait asuransi.

Di seluruh kawasan, 71 persen responden bersedia membayar untuk solusi perlindungan siber. Konsumen dengan pendapatan lebih tinggi menunjukkan preferensi terhadap cakupan yang lebih komprehensif, termasuk pemantauan dan peringatan, layanan perlindungan keluarga, dukungan insiden 24/7, dan cakupan kerugian finansial.

You can share this post!