Kemenpar Perkuat Strategi Pariwisata Asia-Pasifik Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah
Sumber Foto: RM.ID
Internasional

Kemenpar Perkuat Strategi Pariwisata Asia-Pasifik Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah

Portal News Day - RM.id Rakyat Merdeka - Memanasnya konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran mulai memicu gangguan pada mobilitas penerbangan internasional. Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga kinerja sektor pariwisata, khususnya arus kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia.

Kemenpar mengaku tengah menyiapkan langkah-langkah mitigasi di sektor pariwisata guna mengantisipasi dampak konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran yang semakin memanas. Upaya ini dilakukan agar kinerja pariwisata, khususnya dari kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia, tetap terjaga.

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengatakan, salah satu strategi mitigasi yang disiapkan pemerintah adalah memperkuat pasar wisata dari kawasan Asia dan Pasifik. Langkah ini dinilai penting mengingat adanya potensi gangguan mobilitas wisatawan dari kawasan Timur Tengah akibat situasi konflik.

“Arahan dari Ibu Menteri Pariwisata, kita akan memperkuat pasar Asia dan Pasifik. Dengan strategi ini diharapkan dampak dari situasi di Timur Tengah tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja pariwisata Indonesia,” ujar Ni Luh Puspa dalam keterangan resminya, Sabtu (7/3/2026).

Khusus di Bali, berdasarkan laporan dari pihak Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, telah terjadi gangguan pada sejumlah rute penerbangan dari dan menuju kawasan Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat–Israel terhadap Iran.

Meski demikian, Ni Luh Puspa meyakini, sebagian wisatawan masih dapat menyesuaikan rute penerbangan menuju Bali dengan memanfaatkan sejumlah hub alternatif di kawasan Asia, seperti Malaysia dan Singapura.

Oleh karena itu, dia menilai langkah mitigasi melalui penguatan pasar Asia dan Pasifik, antara lain dengan menggencarkan promosi pariwisata di kawasan tersebut menjadi strategi yang tepat untuk menjaga arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia di tengah memanasnya konflik.

“Data kunjungan wisatawan mancanegara pada 2025 juga menunjukkan, lima negara penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia berasal dari kawasan Asia dan Pasifik, yakni Malaysia, Australia, Singapura, China, dan Timor Leste,” bebernya.

Mantan jurnalis itu juga memastikan, Kemenpar akan terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi pariwisata dunia UN Tourism, untuk memantau perkembangan situasi global serta dampaknya terhadap mobilitas wisatawan internasional.

“Situasi ini masih terus kita pantau. Kami akan melihat laporan-laporan terbaru, termasuk perkembangan di Bali, untuk memastikan langkah mitigasi yang tepat bagi sektor pariwisata,” tuturnya.

Ni Luh Puspa menegaskan, Kemenpar tetap optimistis, dengan daya tarik destinasi, kualitas pengalaman wisata, serta kerja sama erat antara pemerintah dan industri, Indonesia tetap berada pada posisi yang kuat sebagai destinasi pilihan wisatawan global di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Sebelumnya, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut konflik Iran dengan Amerika Serikat–Israel berpotensi mengganggu sektor transportasi, khususnya penerbangan dan pelayaran internasional. Dampaknya, sektor pariwisata nasional bisa tertekan apabila tidak diantisipasi dengan baik.

Pihak pengelola Bandara I Gusti Ngurah Rai menyebut eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu pembatalan 64 penerbangan internasional hingga Jumat (6/3/2026) pukul 17.00 WITA. Rinciannya terdiri dari 34 penerbangan keberangkatan dan 30 penerbangan kedatangan. SSL

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Minggu, 8 Maret 2026 dengan judul " Konflik Timur Tengah Memanas Kemenpar Siapkan Mitigasi Pasar Asia-Pasifik Diperkuat"