Portal News Day - Di balik riuhnya suara khotbah, gerak tangan relawan JBI di Masjid UIN Sunan Kalijaga menjadi jembatan spiritual yang memastikan jemaah tuli tak lagi terpinggirkan dari pesan-pesan keagamaan.
Ringkasan berita
Kehadiran Juru Bahasa Isyarat (JBI) wujud kesetaraan akses informasi di bidang keagamaan.
Ketersediaan JBI menjadi tantangan pemerataan di forum-forum dan agenda keagamaan.
Kompleksitas istilah keagamaan jadi tantangan bagi petugas penerjemah isyarat.
A DA SUASANA berbeda di dalam masjid UIN Sunan Kalijaga tiap kali salat Jumat. Tepat di sebelah kiri mimbar khatib, ada seorang petugas yang menjadi penerjemah. Melalui gerakkan tangan dan ekspresi wajah bak seorang pantomim, ia menerjemahkan proses salah Jumat, mulai dari azan dikumandangkan hingga sesi ceramah khatib untuk jemaah Tuli.
Muhammad Rifky Kurnia, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang menjadi salah satu dari tujuh Juru Bicara Isyarat (JBI) di Pusat Layanan Difabel (PLD) yang bertugas menjadi penerjeman salat Jumat di masjid kampusnya. Ia dan rekan-rekannya yang lain, bertugas bergiliran.