Jawa Timur: Gerbang Baru Nusantara dan Tantangannya
Sumber Foto: redaksi.duta.co
Gerbang Berita

Jawa Timur: Gerbang Baru Nusantara dan Tantangannya

SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak pada periode kedua kepemimpinannya mengusung visi besar yang dikenal sebagai "Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara". Visi ini bertujuan untuk menegaskan posisi strategis Jawa Timur sebagai pusat perdagangan dan penghubung utama antara Indonesia bagian barat dan timur.

Jawa Timur, yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, selama ini dikenal sebagai pemasok utama komoditas pertanian dan produk industri ke wilayah Indonesia Timur. Dengan perpindahan Ibu Kota Negara (IKN) dari Jakarta ke Kalimantan Timur, posisi Jawa Timur menjadi semakin strategis baik dari segi geografis maupun ekonomi.

Namun, di balik peluang besar yang ada, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah progres pembangunan IKN yang masih belum maksimal. Hal ini menjadi tantangan bagi Jawa Timur dalam mewujudkan visi "Gerbang Baru Nusantara" secara nyata.

Diskusi Fokus pada Peluang dan Tantangan

Pada Jumat, 7 Maret 2025, Ayojatim.com mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema "Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara, Peluang & Tantangan?" di RKTP Café Surabaya. Berbagai perspektif kritis mengenai visi ini disampaikan oleh para narasumber.

Pemimpin Redaksi Ayojatim.com, Dr. Harliantara, M.Si, mengungkapkan bahwa visi ini membawa harapan besar bagi kemajuan Jawa Timur. Namun, untuk merealisasikannya, langkah-langkah konkret dan strategi yang jelas sangat dibutuhkan.

"Ada dua perspektif yang perlu diperjelas: apakah Jawa Timur akan lebih berperan sebagai penghubung ke IKN atau memperkuat posisinya sebagai pusat ekonomi dan perdagangan nasional," ujar Harliantara, menekankan pentingnya reorientasi konsep Nusantara dalam visi tersebut.

Keselarasan Visi dan Implementasi Nyata

Sejumlah narasumber dalam FGD tersebut memberikan pandangan mereka. Jairi Irawan, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim dari Fraksi Partai Golkar, menilai bahwa visi "Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara" dapat menyatukan visi dan misi seluruh kabupaten/kota dengan pemerintah provinsi.

"Keselarasan visi dan misi sangat penting agar RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) kabupaten dan kota selaras dengan RPJMD Jawa Timur," jelasnya.

Sementara itu, Baihaki Sirajt, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Accurate Research And Consulting Indonesia (ARCI), mengingatkan bahwa visi ini tidak boleh hanya menjadi jargon. Ia menekankan pentingnya implementasi nyata, terutama dalam 100 hari kerja pertama.

"Jika tidak ada progres, masyarakat akan menilai bahwa 'Gerbang Baru Nusantara' ini hanya sekadar jargon, mirip dengan persepsi terhadap IKN yang belum menunjukkan kemajuan yang signifikan," tegas Baihaki.

Di sisi lain, H. Irwan Setiawan, Ketua DPW PKS Jatim, menunjukkan optimisme bahwa Khofifah-Emil mampu mewujudkan visi ini, dengan kunci keberhasilan terletak pada kolaborasi antara pemerintah, partai politik, swasta, dan masyarakat.

"Jawa Timur memiliki potensi besar dalam berbagai sektor, termasuk ekonomi, budaya, dan pariwisata. Jika dikelola dengan serius, maka 'Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara' bukan sekadar konsep di atas kertas," ungkap Irwan.

Visi "Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara" menawarkan peluang besar bagi provinsi ini untuk memperkuat perannya dalam ekonomi nasional. Namun, keberhasilan visi tersebut sangat bergantung pada implementasi strategi yang jelas, sinergi antara pemerintah daerah dan pusat, serta partisipasi aktif dari berbagai pihak. Tanpa langkah konkret, visi ini berpotensi kehilangan arah dan hanya menjadi slogan tanpa dampak nyata.