Indonesia Mantapkan Posisi Sebagai Pusat Ekonomi Islam Asia-Pasifik
Indonesia memantapkan posisinya sebagai Hub Ekonomi Islam Asia-Pasifik, siap menjadi jembatan perdagangan dan investasi syariah global melalui inisiatif B57+, perkuat konektivitas antarnegara muslim.
23:03:13
Ketua Dewan Pengawas Indonesian Business Council (IBC), Arsjad Rasjid, menegaskan kesiapan Indonesia untuk menjadi "hub" atau jembatan utama bagi perdagangan dan investasi Islam di kawasan Asia-Pasifik. Pernyataan ini disampaikan dalam forum Indonesia Economic Summit (IES) 2026 yang berlangsung di Jakarta, Rabu. Indonesia memiliki keunggulan geografis serta kepercayaan kuat dari negara-negara muslim, menjadikannya lokasi strategis.
Inisiatif ini bertujuan untuk menghubungkan para pelaku usaha muslim dengan berbagai peluang bisnis nyata, mulai dari kemitraan strategis hingga investasi berskala besar. Indonesia juga membuka diri untuk bekerja sama dengan investor global yang memiliki ketertarikan pada sektor ekonomi Islam yang terus berkembang pesat. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi syariah secara signifikan.
Pernyataan penting ini disampaikan Arsjad dalam sesi Indonesia-Business 57+ (B57+) Roundtable, sebuah platform inklusif yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan mitra internasional. Forum ini dirancang untuk membahas strategi konkret dalam memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara muslim dan mitra strategisnya di seluruh dunia.
Inisiatif B57+ Perkuat Peran Indonesia sebagai Pusat Ekonomi Islam
Business 57+ (B57+) merupakan platform strategis yang dirancang untuk menyatukan berbagai pihak terkait dalam ekosistem ekonomi Islam global. Platform ini mempertemukan perwakilan pemerintah, pelaku usaha, dan mitra internasional guna merumuskan strategi konkret. Tujuannya adalah memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara muslim serta mitra strategis mereka di seluruh dunia.
Indonesia kini diposisikan sebagai simpul utama dalam kerja sama ekonomi Islam melalui pembentukan B57+ Asia-Pacific Chapter. Babak regional ini secara resmi diluncurkan pada tanggal 3 Februari 2026, sebagai bagian dari rangkaian acara Indonesia Economic Summit (IES) 2026. Peluncuran ini menandai komitmen Indonesia dalam memimpin inisiatif penting ini.
Arsjad Rasjid menekankan bahwa inisiatif B57+ diarahkan untuk menyatukan para pemimpin sektor swasta dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OIC). Tujuannya adalah untuk memperkuat perdagangan, investasi, dan kolaborasi ekonomi di seluruh pasar Islam global. Hal ini menunjukkan ambisi Indonesia untuk menjadi Hub Ekonomi Islam Asia-Pasifik yang berpengaruh.
Menurut Arsjad, negara-negara muslim memiliki skala pasar dan basis produksi yang luar biasa besar, namun potensi ini belum sepenuhnya termaksimalkan. Melalui konektivitas yang lebih kuat, Indonesia dapat berperan sentral dalam mengoptimalkan potensi tersebut. Ini akan menjadikan Indonesia sebagai penghubung vital dalam jaringan ekonomi syariah internasional.
ADVERTISEMENT
Posisi Kuat Indonesia dalam Ekosistem Ekonomi Islam Global
Indonesia berhasil mempertahankan peringkat ketiga dalam ekonomi Islam global, berada di bawah Malaysia dan Arab Saudi. Data ini berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy Report 2024-2025 yang baru dirilis. Posisi ini menunjukkan kekuatan dan potensi besar Indonesia dalam ekosistem ekonomi Islam dunia.
Pencapaian ini didukung oleh nilai investasi halal terbesar yang dimiliki Indonesia, menunjukkan kepercayaan pasar terhadap sektor ini. Selain itu, pertumbuhan industri halal nasional terus menunjukkan momentum positif dan berkelanjutan. Ini semakin memperkuat fondasi Indonesia sebagai Hub Ekonomi Islam Asia-Pasifik yang potensial.
Menteri Agama Nasaruddin Umar turut memberikan dukungannya terhadap inisiatif B57+, menyatakan bahwa program ini sejalan dengan prinsip ekonomi Islam. Prinsip-prinsip tersebut menekankan keadilan, kerja sama, dan keterkaitan yang erat dengan sektor riil. Dukungan pemerintah menjadi kunci keberhasilan inisiatif ini.
Menteri Nasaruddin juga menyoroti pentingnya ekonomi halal sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dengan basis pasar yang besar dan terintegrasi dari hulu ke hilir, ekonomi halal mampu mendorong pertumbuhan, memperluas akses pembiayaan, serta meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai nilai global.
ADVERTISEMENT
Dukungan Internasional Perkuat Peran Strategis Indonesia
Dukungan terhadap peran strategis Indonesia dalam ekonomi Islam juga datang dari berbagai pemangku kepentingan internasional. Hal ini menunjukkan pengakuan global terhadap potensi dan kepemimpinan Indonesia di sektor ini. Kolaborasi internasional menjadi elemen penting dalam mewujudkan visi ini.
Presiden Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) dan Chairman of the Federation of Saudi Chambers of Commerce, Abdullah Saleh Kamel, secara terbuka menyatakan dukungannya. Ia mendukung peran Indonesia dalam memperkuat integrasi ekonomi di dunia Islam melalui B57+ Asia-Pacific Regional Chapter. Dukungan ini sangat berarti bagi inisiatif Indonesia.
Abdullah Saleh Kamel menilai inisiatif yang digagas Indonesia ini sebagai langkah penting menuju kolaborasi bisnis lintas negara yang lebih terstruktur dan efektif. Kerangka kerja B57+ dianggap lebih praktis bagi pelaku usaha di negara-negara Islam untuk saling terhubung. Ini akan memfasilitasi perdagangan dan investasi yang lebih lancar.
Menurut Abdullah, peran Indonesia sangat vital dalam membangun jembatan perdagangan dan investasi lintas kawasan. Ini menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dan kapasitas untuk menjadi penghubung utama dalam jaringan ekonomi Islam global, memperkuat statusnya sebagai Hub Ekonomi Islam Asia-Pasifik.
Sumber: AntaraNews
ADVERTISEMENT




