IBM: Pencurian Data Masih Dominasi Kejahatan Siber di Asia Pasifik
BACA JUGA
Roblox Diklaim Jadi Tempat Rekrut Teroris, Begini Modusnya
Aplikator Dilarang Lakukan Potongan 10% ke Driver Ojol dan Taksol
Era AI Bikin Huawei Kebanjiran Pesanan Chip Ascend
Ada Angin Segar, Harga Chip Memori RAM Mulai Turun
Harga Prosesor AMD Ryzen Melonjak Tajam di Pasar Jepang, Didorong Krisis AI
Motorola Pede Bersaing Di Pasar Flagship, Kamera Signature Diakui Dunia
Suharno https://selular.id/
Selular.ID – Perusahaan teknologi IBM menyebut kasus pencurian data masih marak terjadi di Asia Pasifik termasuk Indonesia.
Jake Paulson, Deputy Head of IBM X-Force Cyber Range mengatakan di kawasan Asia Pasifik, pelaku serangan siber kerap menggunakan berbagai cara.
“Berbagai cara tersebut bisa menggunakan malware (45%), spam (15%), tool yang terlegitimasi (15%), dan akses server (10%) sebagai tindakan utama mereka dalam mencapai tujuan serangan,” ungkapnya kepada Selular, Kamis (26/2/2026).
Dia menambahkan untuk wilayah Asia Pasifik, dampak utama yang menjadi efek yang dituju atau terjadi dari suatu tindakan terhadap korban di antaranya meliputi pencurian data (14%), reputasi merek (14%), dan pengumpulan kredensial (7%).
“Hal ini mencerminkan kerentanan sektor ini terhadap serangan yang menargetkan data sensitif dan gangguan operasional,” jelasnya.
Kawasan Asia Pasifik juga terus menjadi episentrum insiden yang berkaitan dengan sektor manufaktur, dengan menyumbang 68% dari total serangan.
Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda
“Di Asia Pasifik, sektor manufaktur tetap menjadi industri yang paling banyak menjadi sasaran, mewakili 65% insiden, diikuti oleh sektor keuangan dan asuransi (17%), serta transportasi (7%),” ungkapnya.
Baca juga:
Usai Lakukan PHK Masal Demi AI, IBM Kini Buka Lowongan Besar-besaran
IBM Akuisisi Confluent Rp 183 Triliun, Terbesar Kedua Setelah Red Hat
Jake Paulson juga menyebut para penjahat siber kerap menggunakan kecerdasan buatan atau AI untuk melakukan aksinya.
Hal tersebut bisa diantisipasi dengan menggunakan AI untuk menghindari serangan siber yang mengancam.
Menurutnya, AI tidak hanya mentransformasi cara manusia berinovasi, tetapi juga secara fundamental mengubah cara kita memperkuat pertahanan.
“Dengan meningkatkan visibilitas, kecepatan, dan presisi di seluruh siklus keamanan, AI memungkinkan organisasi untuk mengantisipasi ancaman, merespons secara real time, dan tetap selangkah lebih maju di tengah lanskap ancaman yang semakin kompleks dan terus berkembang,” tandasnya.
Tags
IBM
kejaharan siber
Pencurian data
BERITA SEBELUMNYA
Penjualan HP Baru Minggu Pertama Ramadan Melambat, Hp Second Dicari
BERITA SELANJUTNYA
EVOS dan Pop Mie Perkuat Ekosistem Esports 2026
- Advertisement 1-
BERITA TERKAIT
Indonesia Pimpin Ekonomi Digital di ASEAN, Sumbang 40% di Kawasan
56 Persen Kerentanan Bisa Dieksploitasi Penjahat Siber Tanpa Autentikasi
Usai Lakukan PHK Masal Demi AI, IBM Kini Buka Lowongan Besar-besaran
Satu Lagi Platform AI yang Umumkan Ekspansi ke Indonesia
Riyadh Air dan IBM Luncurkan Maskapai AI Native Pertama di Dunia
IBM Soroti 5 Pilar Teknologi yang Bakal Redefinisi Industri Global
BERITA PILIHAN
TelkomGroup Dukung PP Tunas, Perkuat Ruang Digital Anak
Aplikator Dilarang Lakukan Potongan 10% ke Driver Ojol dan Taksol
Maybank Indonesia dan Bank Sinarmas Realisasikan Transaksi SRIA
Penipuan Scam Melonjak, VIDA Dorong Kewaspadaan Digital
Buat Internet Makin Kencang, Komdigi Mulai Seleksi Spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz
Menkomdigi: TikTok Nonaktifkan 1,7 Juta Akun Anak di Indonesia
ZTE dan XLSMART Resmikan Innovation Center 5G-Advanced di Jakarta
MoraRepublic Resmi Berdiri, Perkuat Infrastruktur Digital Nasional




