Global March to Gaza: Suara Nurani Dunia di Tengah Krisis Kemanusiaan
Gerakan Global March to Gaza yang berlangsung dari Al-Arish menuju Gerbang Rafah telah menarik perhatian dunia internasional sebagai manifestasi nurani kolektif yang menolak untuk tetap diam di tengah krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina.
Konvoi ini diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai negara yang hadir bukan sebagai perwakilan diplomatik resmi, melainkan sebagai simbol moral dan kemanusiaan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pensiunan, perawat, jurnalis, dokter, dan aktivis hak asasi manusia, serta anak muda yang ingin mengambil tindakan nyata dalam merespons situasi di Gaza.
Peserta konvoi ini meliputi orang-orang dari Tunisia, Libya, Maroko, Amerika, Eropa, Asia, dan termasuk Indonesia. Mereka berkumpul dengan keyakinan bahwa isu kemanusiaan di Palestina tidak dapat ditunda lebih lama lagi.
Diplomasi Tanpa Protokol
Ali Amril, Ketua Aliansi Kemanusiaan Indonesia (Aksi), menyebut aksi ini sebagai "diplomasi jalanan" yang menandai perubahan dalam cara dunia merespons tragedi kemanusiaan. "Ini adalah bentuk diplomasi tanpa podium, tanpa protokol, dan tanpa basa-basi. Gerbang Rafah mungkin dikunci, tetapi nurani dunia tidak dapat dibungkam," ujarnya.
Ali juga menekankan bahwa gerakan ini merupakan kelanjutan dari aksi kemanusiaan sebelumnya, termasuk aksi kapal Madleen yang sempat dicegat di laut. "Madleen mungkin digagalkan, tetapi dentumannya membangunkan dunia. Kini, langkah-langkah kaki di Sinai mengambil tongkat estafet itu," tambahnya.
Partisipasi Indonesia
Ali menyoroti keterlibatan sejumlah warga negara Indonesia dalam konvoi tersebut, termasuk tokoh publik seperti Zaskia Adya Mecca, Ratna Galih, Wanda Hamidah, Hamidah Rachmayanti, dan Indadari Mindrayanti. "Kehadiran mereka adalah pesan simbolik dari rakyat Indonesia bahwa keberpihakan terhadap Palestina bukan hanya wacana, tetapi tindakan nyata," tuturnya.
Langkah mereka menjadi simbol bahwa Indonesia telah lama berdiri bersama Palestina, tidak hanya melalui pernyataan, tetapi juga dengan kehadiran fisik dan keberanian untuk bersuara.
Perjuangan di Tengah Penolakan
Ali mengkritik tindakan penahanan dan deportasi terhadap peserta konvoi oleh otoritas Mesir, menegaskan bahwa jika mereka yang membawa air dan obat saja diusir, maka apa yang tersisa dari nilai kemanusiaan kita?
Menurutnya, Global March to Gaza merupakan tonggak penting dalam sejarah diplomasi kemanusiaan dunia. "Setelah suara dari laut, kini daratan bersuara. Ini adalah estafet diplomasi nurani global yang tidak akan berhenti," ujarnya.
Ajakan untuk Bertindak
Ali mengajak masyarakat dunia untuk berpartisipasi dalam gerakan ini, baik secara fisik, doa, tulisan, maupun dukungan moral. "Gaza adalah luka dunia. Setiap langkah menuju Rafah adalah langkah menuju pemulihan nurani bersama. Dunia sedang bergerak, meski pelan, namun pasti," tutupnya.




