Gerbang Candi Bentar di Gedung Sate: Menyelaraskan Warisan Budaya dan Arsitektur Modern
Sumber Foto: ANTARA News
Gerbang Berita

Gerbang Candi Bentar di Gedung Sate: Menyelaraskan Warisan Budaya dan Arsitektur Modern

Bandung - Proyek pembangunan gerbang "Candi Bentar" di Gedung Sate telah menjadi perbincangan di masyarakat. Tubagus Adhi, seorang ahli cagar budaya dari Jawa Barat, menegaskan bahwa desain gerbang tersebut masih sejalan dengan visi arsitektur Gedung Sate yang dirancang oleh J. Gerber dalam gaya eklektik yang dikenal sebagai Art Deco.

Menurut Adhi, banyak pihak yang meragukan kesesuaian desain gerbang baru dengan bangunan Gedung Sate, namun ia berpendapat bahwa anggapan tersebut tidak berdasarkan fakta. Ia menjelaskan bahwa Gedung Sate dibangun dengan pengaruh lintas budaya, dan pada masa Hindia Belanda, gaya Art Deco sebenarnya merepresentasikan bentuk candi Hindu-Buddha dalam konteks bangunan modern.

"Penambahan elemen Candi Bentar ini justru memiliki hubungan sejarah yang kuat dengan Gedung Sate," ujar Adhi saat menjelaskan pandangannya di Bandung pada hari Minggu.

Perdebatan mengenai gerbang baru ini juga mencuat di media sosial, di mana beberapa orang menganggap warna pilar bata terakota yang khas dari Tatar Sunda bertabrakan dengan fasad kolonial Gedung Sate yang didominasi warna putih. Meski demikian, Adhi mencatat bahwa pada beberapa gerbang sebelumnya, warna bata tersebut juga dicat putih.

Adhi, yang juga menjabat sebagai Humas Bandung Heritage Society, meluruskan miskonsepsi mengenai status pagar Gedung Sate. Ia menjelaskan bahwa pagar yang dibongkar bukanlah bagian dari cagar budaya warisan kolonial, melainkan merupakan bangunan tambahan yang dibangun pada era 1980-an. "Pada masa kolonial, Gedung Sate tidak memiliki pagar (terbuka)," imbuhnya. Oleh karena itu, penggantian pagar saat ini tidak melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, selama tetap dalam koridor adaptasi untuk kebutuhan masa kini.

Adhi menekankan bahwa pembangunan gerbang baru ini penting untuk meningkatkan aspek keamanan aset vital negara dan juga aksesibilitas publik, termasuk bagi penyandang disabilitas. "Kita belajar dari kejadian demonstrasi di DPRD Jawa Barat yang pagarnya dibakar massa. Keberadaan pagar yang representatif penting untuk melindungi aset, namun tetap harus estetis," jelasnya.

Lebih lanjut, Adhi menyebutkan bahwa langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menghadirkan sentuhan lokal melalui Candi Bentar adalah terobosan yang berani dalam arsitektur gedung pemerintahan di Tanah Pasundan. Ia mencatat bahwa provinsi lain seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali telah lebih dahulu menonjolkan identitas lokal dalam bangunan pemerintah mereka. "Bagi saya pribadi, konteks Gapura Candi Bentar ini keren dan memiliki sentuhan nilai sejarah yang menguatkan identitas kawasan, bukan merusaknya," tutupnya.