Portal News Day - Dinamika global saat ini ditandai oleh pergeseran kekuatan dan perburuan hegemoni, terutama di tengah ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan serta konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan aliansi Amerika Serikat-Israel. Dalam konteks ini, Republik Rakyat China (RRC) muncul sebagai aktor kunci yang memainkan peran penting dalam mempengaruhi situasi keamanan global.
China menunjukkan keberaniannya dalam mengalihkan perhatian Amerika Serikat dari kawasan Pasifik ke Asia Barat dan Selatan. Dengan pasokan alutsista seperti jet tempur JF-17 ke Pakistan dan teknologi rudal serta drone ke Iran, Beijing berhasil memperkuat posisi strategisnya. Menurut data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), China kini menjadi pemasok utama bagi 81% total impor pertahanan Pakistan, meningkat dari 74% sebelumnya.
Lebih lanjut, laporan dari Conflict Armament Research (CAR) menyatakan bahwa 70% komponen elektronik pada armada drone Shahed dan rudal balistik Iran berasal dari perusahaan teknologi China. Integrasi Sistem Navigasi Satelit BeiDou oleh Iran juga menunjukkan dampak signifikan terhadap kemampuan presisi mereka, yang mengurangi ketergantungan pada GPS Barat. Kebijakan kontrol ekspor China, yang diperketat sejak Desember 2024, serta dominasi dalam produksi Logam Tanah Jarang (LTJ) memberikan Beijing posisi tawar yang kuat dalam diplomasi internasional.
Rusia juga terlibat dalam konflik ini dengan berperan sebagai penyokong utama Iran. Melalui barter teknologi, Rusia menyediakan sistem pertahanan yang memperkuat kemampuan militer Iran dan menciptakan risiko baru bagi operasi AS dan Israel di kawasan tersebut. Kerja sama ini menciptakan zona Anti-Access/Area Denial (A2/AD) yang menyulitkan pihak lawan untuk beroperasi bebas di wilayah itu.
Di tengah situasi ini, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memiliki peluang strategis untuk berperan sebagai mediator. Dengan mengelola Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dan memiliki cadangan mineral yang signifikan, Indonesia dapat menawarkan jaminan keamanan dan stabilitas kepada berbagai pihak. Melalui pendekatan yang berbasis pada kepentingan konkret, Indonesia dapat menciptakan ketergantungan timbal balik yang memaksa semua pihak untuk bernegosiasi. Mediasi yang dilakukan bukan hanya sekadar tanggung jawab moral, tetapi juga merupakan langkah cerdas dalam politik luar negeri untuk mengamankan posisi Indonesia di kancah geopolitik global.