FORKESI: Membangun Dukungan dan Kesetaraan untuk Keluarga Difabel
RRI.CO.ID, Surakarta - Forum Keluarga Spesial Indonesia (FORKESI) hadir sebagai wadah bagi keluarga penyandang disabilitas untuk saling menguatkan sekaligus menyalurkan potensi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Komunitas ini juga menjadi ruang berbagi informasi, pendampingan, serta perlindungan bagi keluarga difabel.
FORKESI bertujuan mengumpulkan keluarga yang memiliki anggota difabel serta menghadirkan para pakar untuk membantu proses diagnosis dan pengembangan potensi anak. "Disabilitas tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga non fisik seperti autisme, hiperaktif, dan kesulitan belajar, " kata Ketua FORKESI Surakarta, Nana Sinar Sasih dalam kunjungan ke Pro 4 RRI Surakarta, Rabu 12 Februari 2026.
Setiap anak memiliki cara berbeda dalam memahami dan merespons lingkungan.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi keluarga difabel adalah tingginya biaya terapi serta stigma masyarakat yang masih memandang anak difabel sebagai “berbeda”.
Hakekatnya anak-anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. “Melalui Forkesi, kami berharap dapat membangun kesadaran bahwa teman-teman difabel memiliki kesempatan yang setara dengan yang lainnya. Harapannya, akses dan peluang yang mereka peroleh juga setara,” ujar Nana.
Selain mendorong kesadaran publik, Forkesi juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam membangun kepercayaan diri anak. Anak akan percaya diri ketika orang tua percaya bahwa ia mampu.
Pujian atas keberhasilan kecil yang dilakukan anak dinilai mampu membangun rasa percaya diri secara bertahap. Komunitas ini aktif mengundang pakar, membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, serta bergerak di bidang seni.
Forkesi akan terus memperluas jejaring dengan sejumlah komunitas dan lembaga sosial lainnya. Selain itu, Forkesi juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan inklusif.
Melalui Forkesi, keluarga difabel diharapkan tidak merasa sendiri. Semakin banyak suara yang disuarakan, semakin besar peluang untuk didengar dan diwujudkan dalam kebijakan yang lebih inklusif.




