Fenomena AI Cover Lagu: Kreativitas atau Pelanggaran Hak Cipta?
Sumber Foto: RRI.co.id
Hiburan

Fenomena AI Cover Lagu: Kreativitas atau Pelanggaran Hak Cipta?

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Tren meng-cover lagu menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau AI Voice Covers tengah meledak dan menjadi fenomena baru di dunia musik digital. Melalui teknologi ini, suara penyanyi terkenal dapat ditiru untuk menyanyikan lagu milik artis lain, bahkan lintas genre dan lintas negara, sehingga kerap viral di media sosial seperti TikTok dan YouTube.

Teknologi AI voice cloning bekerja dengan mengambil sampel suara asli seorang penyanyi, kemudian memodelkan karakter vokal seperti timbre, nada, dan gaya bernyanyi. Vokal tersebut lalu diterapkan pada lagu baru menggunakan platform berbasis AI seperti Suno AI, Udio, dan ACE Studio. Proses ini memungkinkan siapa saja menghasilkan cover lagu dengan kualitas menyerupai rekaman studio hanya dalam hitungan detik.

Fenomena ini memunculkan berbagai konten unik yang menarik perhatian publik. Salah satunya adalah video AI yang menampilkan penyanyi internasional seperti Ariana Grande atau Jungkook BTS seolah-olah menyanyikan lagu-lagu populer Indonesia, termasuk lagu “Komang”. Selain itu, AI juga digunakan untuk mengubah genre lagu, seperti lagu rock yang diaransemen ulang menjadi jazz, hingga membuat ulang lagu-lagu legendaris dengan nuansa modern.

Di balik popularitasnya, tren AI cover lagu juga memunculkan tantangan serius, terutama dari sisi hukum dan etika. Penggunaan AI untuk meng-cover lagu tanpa izin dinilai berpotensi melanggar hak cipta, karena melibatkan modifikasi karya musik dan penggunaan vokal tanpa persetujuan pemilik hak. Selain itu, hak publisitas juga menjadi sorotan, mengingat suara manusia merupakan bagian dari identitas personal yang dilindungi hukum.

Sejumlah platform musik digital mulai merespons fenomena ini. Spotify, misalnya, dikabarkan tengah menyiapkan aturan yang lebih ketat untuk membatasi distribusi konten musik hasil AI yang tidak memiliki izin resmi.

Meski demikian, tren AI cover lagu tetap diminati karena dianggap menghadirkan hiburan baru yang kreatif dan mudah diakses. Faktor kemudahan penggunaan, potensi viral, serta unsur nostalgia membuat teknologi ini cepat diterima oleh masyarakat digital.

Ke depan, pada periode 2025–2026, teknologi AI voice cover diperkirakan akan terus berkembang seiring inovasi di bidang kecerdasan buatan. Namun, para pengamat menilai perlu adanya regulasi dan pengawasan yang lebih ketat agar perkembangan teknologi ini tetap menghormati hak cipta, etika, dan hak suara manusia.