Portal News Day - NIEUWEGEIN, KOMPAS.com - Erica van Barneveld, 53, kembali mengenang pengalamannya yang tak terlupakan, saat dirinya berhasil selamat dari kerusakan fungsi jantung 15 tahun lalu.
Sabtu sore, 18 Juni 2011, merupakan hari yang biasa bagi Erica. Perempuan asal Belanda itu menikmati pertandingan sepak bola anak-anaknya. Di pinggir lapangan, ia berdiri santai sambil memegang segelas anggur, menikmati akhir pekan bersama keluarga.
Tak ada firasat bahwa beberapa menit kemudian, hidupnya akan berubah selamanya.
"Saya ingat saya berpikir, 'Apa yang terjadi pada diri saya?'" kenangnya.
Saat itu, Ia merasa tubuhnya tiba-tiba terasa sangat tidak enak. Erica berusaha berjalan menuju kamar kecil, tetapi langkahnya terhenti. Rasa nyeri yang luar biasa menekan dadanya, membuatnya tak sanggup melakukan apa pun hingga akhirnya ia terjatuh.
Ambulans segera membawanya ke rumah sakit di Nieuwegein. Membutuhkan waktu perjalanan sekitar tiga puluh menit menuju rumah sakit.
“Sesampainya di rumah sakit, tim medis telah bersiap dengan mengenakan kostum pelindung berwarna biru dan mereka langsung melakukan beberapa tes, termasuk angiografi koroner,” tutur Erica kepada jurnalis dari berbagai negara yang hadir dalam rangkaian acara Philips Pulse Connect, Kamis (2/7/2026) di St. Antonius Hospital, Nieuwegein, Belanda.
Awalnya mereka menduga Erica mengalami penyumbatan pembuluh darah koroner yang dapat segera ditangani. Sayangnya, dugaan itu keliru. Kondisinya bahkan memburuk dengan sangat cepat.
Di atas meja operasi, Erica mengalami clinically dead (mati klinis), di mana jantungnya berhenti berdetak.
“Dokter segera mengaktifkan mesin jantung-paru, berusaha mencari penyebab sebenarnya. Saat itulah mereka menemukan kondisi yang jauh lebih berbahaya, yakni diseksi aorta. Di mana lapisan dalam aorta, pembuluh darah terbesar yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh robek, sehingga aliran darah menuju jantung berhenti total,” cerita ibu empat anak ini.
Tak ada waktu untuk berpikir panjang. Dokter langsung melakukan operasi jantung terbuka. Ahli bedah membuat bypass pada bagian aorta yang rusak dan berhasil menyelamatkan nyawanya.
Namun siapa sangka, itu bukan akhir, melainkan perjuangan yang ternyata baru dimulai.
Bangun dari Koma dengan Tubuh yang Tak Lagi Sama
Setelah menjalani operasi jantung terbuka, slama tiga hari Erica berada dalam kondisi koma. Ketika akhirnya sadar, ia mengaku tidak memahami apa yang telah terjadi.
"Saya berbaring di ranjang rumah sakit sambil bertanya-tanya, 'Apa yang terjadi pada saya?'"
Dua minggu kemudian ia diizinkan pulang. Momen yang seharusnya membahagiakan justru menjadi awal kenyataan pahit. Tubuhnya masih dipenuhi cairan, ia merasa tak bertenaga dan tak bisa berjalan, sementara di rumah ada empat anak kecil yang membutuhkan kehadirannya sebagai ibu.
"Saya masih sangat sakit. Padahal, saya memiliki empat anak kecil yang tentu saja membutuhkan saya, tetapi saat itu saya tidak bisa merawat mereka," ujarnya.
Tak lama setelah pulang, Erica harus kembali dirawat. Pemeriksaan menunjukkan bahwa serangan jantung telah menyebabkan kerusakan berat pada jantungnya. Fungsi pompa jantungnya tinggal sekitar 20 persen. Tidak hanya itu, katup mitralnya juga mengalami kebocoran.
Normalnya, kondisi tersebut ditangani dengan operasi jantung terbuka. Namun, tubuh Erica sudah terlalu lemah untuk menjalani operasi besar kedua.
Secercah harapan lewat prosedur eksperimental
Malam sebelum operasi, ahli jantung Jan van der Heyden datang ke ruang perawatannya membawa kabar yang tak pernah diduganya.
"Erica, kita tidak akan melanjutkan operasi jantung terbuka. Kamu terlalu lemah. Tapi saya mungkin punya pilihan lain," katanya mengenang perkataan dokter.
Kala itu, dokter menjelaskan adanya prosedur baru yang masih dalam tahap penelitian. Prosedur minimal invasif transkateter untuk perbaikan katup mitral. Di mana sebuah klip khusus akan dipasang pada katup mitral yang bocor melalui pembuluh darah di selangkangan, sehingga pasien tidak perlu menjalani operasi jantung terbuka.
Bagi Erica, prosedur tersebut adalah secercah harapan.
"Saya bertanya kepada dokter, 'Kesempatan apa lagi yang saya punya untuk tetap hidup?'"
Namun, karena prosedur tersebut masih sangat baru, Erica harus menunggu beberapa minggu. Tim dokter lebih dahulu menggunakannya pada pasien yang lebih tua.
Setelah hasilnya menjanjikan, giliran Erica melakukan prosedur tersebut tiba.
Ketika sadar setelah tindakan, dokter datang menghampirinya dengan tersenyum.
"’Berhasil. Kamu akan bisa berjalan lagi,’ kata dokter. Saya hampir tak percaya. Saya turun dari tempat tidur dan benar saya bisa berjalan lagi," cerita Erica.
"Apa yang saya rasakan saat itu... benar-benar luar biasa," lanjutnya.
Satu tahun belajar hidup kembali
Lihat Foto
Meski prosedur eksperimental berhasil dijaankan, perjalanan pemulihan masih panjang. Erica menjalani rehabilitasi selama satu tahun sebelum akhirnya mampu kembali menjalani kehidupan sehari-hari dan merawat anak-anaknya.
"Bagi seluruh keluarga kami, itu adalah masa yang sangat sulit. Tetapi akhirnya, kami berhasil melaluinya," kata Erica.
Sementara itu, salah satu putra Erica, Gert-Jan van Ginkel mengatakan dirinya dan keluarga merasa sangat bersyukur pada semuanya. Keberhasilan prosedur eksperimental yang dijalani sang Ibu, membuat ibunya dapat kembali ke tengah keluarga dalam kondisi sehat.
“Untuk hadir di sini mengenang yang kami jalani 15 tahun lalu, sedikit emosional mengenangnya. Saat itu saya berdiri di sebelah tempat tidurnya di rumah sakit,” ujarnya.
Pengalaman berada di ambang kematian membuat Erica tidak hanya memperoleh hidup kedua, tetapi juga mendorongnya ikut memperjuangkan perkembangan terapi tersebut.
Bersama para ahli jantung, ia membantu memperkenalkan teknik transkateter untuk perbaikan katup mitral dengan minimal invasif ke berbagai rumah sakit di Belanda, agar semakin banyak pasien yang tidak mampu menjalani operasi besar tetap memiliki kesempatan hidup.
Menurutnya, setiap pasien memang harus dievaluasi secara cermat, karena ada banyak faktor memengaruhi. Namun, adanya inovasi membuka peluang bagi mereka yang sebelumnya nyaris tidak memiliki pilihan terapi.
“Saya merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dari seluruh perjalanan ini. Hari ini, Philips mengundang saya untuk berbagi cerita. Karena sangat penting agar inovasi ini terus berkembang, untuk menyelamatkan lebih banyak pasien,” kata Erica.
Ketika Teknologi dan Kecerdasan Buatan Memberi Harapan Baru
Lima belas tahun setelah prosedur yang menyelamatkan hidupnya, Erica menyaksikan sendiri bagaimana teknologi terus berkembang.
Saat dirinya menjalani tindakan pada 2011, dokter harus memasang klip pada katup jantung yang terus bergerak tanpa bantuan teknologi pencitraan secanggih sekarang.
Kini, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence /AI) membantu dokter menentukan posisi pemasangan klip dengan jauh lebih presisi.
Pasalnya, keakuratan posisi klip dalam prosedur perbaikan katup mitral minimal invasive ini terbilang sangat sulit, karena dilakukan dengan kondisi jantung tetap berdetak.
"Bahkan hari ini, saya masih memiliki kebocoran katup tingkat 2. Namun saat ini, dokter semakin mampu mengurangi kebocoran tersebut hingga ke tingkat 0. Itu luar biasa," ujarnya.
Meski jantungnya mengalami kerusakan permanen dan ia tidak lagi mampu melakukan olahraga berat seperti berlari, Erica memilih memusatkan perhatian pada hal-hal yang masih bisa ia lakukan.
"Saya selalu mencoba untuk fokus pada apa yang bisa saya lakukan, alih-alih apa yang tidak bisa saya lakukan."
Baginya, teknologi memang menyelamatkan nyawanya. Namun kekuatan untuk bangkit juga tak kalah penting.
"Cobalah untuk tetap positif. Bekerjasamalah dengan dokter Anda. Kombinasi itu membuat Anda lebih kuat."
“Salah satu dokter jantung saya mengatakan, ia memiliki dua pasien lain dengan kondisi yang mirip dengan saya. Namun, sikap positif saya membawa perkembangan kesehatan yang lebih jauh,” lanjut Erica.
Kini Erica memiliki salon rambut dan menjalani kehidupan yang hampir normal. Setiap tanggal 18 Juni, ia merayakannya sebagai hari ketika hidupnya diselamatkan.
"Bagi saya, itu adalah hari ulang tahun kedua saya," ujarnya.
Di penghujung ceritanya, Erica menyampaikan satu pesan sederhana dari pengalaman dan perjalanannya.
"Carpe Diem. Nikmati setiap momen. Tidak satu pun dari kita tahu apakah kita masih ada di sini besok," pungkasnya.