Portal News Day - Di sebuah sudut Kota Mataram, lantunan ayat suci Al-Qur’an tak sekadar menjadi rutinitas ibadah. Bagi anak-anak di Rumah Yatim, setiap makhraj yang dibunyikan adalah detak harapan, dan setiap nada tilawah yang dialunkan adalah cara mereka mengetuk pintu masa depan.
Baru-baru ini, suasana haru dan bangga menyelimuti asrama tersebut. Empat anak asuh mereka yakni Arman Saputra, M. Farhan, M. Da’i Kurniawan, dan M. Nopriansah telah berhasil membuktikan bahwa status anak yatim bukanlah batasan untuk mencetak prestasi gemilang di tingkat daerah.
Dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang digelar di kawasan Lalu Nuksabandi, nama Rumah Yatim Mataram berkali-kali disebut di atas panggung juara.
Arman Saputra tampil memukau dan berhasil menyabet Juara Pertama dalam kategori Tartil Baca Al-Qur'an.
Langkah Arman diikuti oleh M. Da’i Kurniawan yang meraih Juara Ketiga pada kategori yang sama.
Di cabang Tilawah Al-Qur'an, dominasi mereka berlanjut. M. Farhan sukses mengamankan posisi Juara Pertama, sementara M. Nopriansah melengkapi kebahagiaan tim dengan meraih Juara Ketiga.
Kemenangan ini bukanlah sebuah kebetulan yang jatuh dari langit. Di balik piala-piala yang berjejer, ada tetesan keringat dan kedisiplinan yang ditempa setiap hari. Sejak fajar menyingsing hingga malam menjelang, keempatnya rutin mengikuti bimbingan intensif dari para pengasuh.
Mereka harus melawan rasa kantuk saat latihan subuh, mengulang-ulang bacaan demi sempurnanya tajwid, hingga berulang kali melatih mental agar tidak goyah saat berhadapan dengan dewan juri dan publik.
"Alhamdulillah, semua ini berkat usaha dan dukungan dari teman-teman, pengasuh, dan orang tua," ungkap Arman dengan rendah hati. "Kami ingin membuktikan bahwa kami bisa, dan kami akan terus belajar untuk mencapai yang lebih baik."
Prestasi ini lebih dari sekadar angka dan gelar juara. Keberhasilan Arman dan kawan-kawan telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap anak asuh. Mereka bukan lagi sekadar objek empati, melainkan subjek inspirasi yang mampu bersaing secara sehat di kancah prestasi.
Bagi anak-anak lain di Nusa Tenggara Barat, kisah empat sekawan ini adalah pengingat, bahwa di mana ada niat yang tulus dan usaha yang tak putus, di situ takdir akan memberikan jalan untuk bersinar.
Rumah Yatim Mataram kini bukan hanya sekadar tempat berteduh, melainkan tempat yang melahirkan generasi tangguh. Perjalanan Arman, Farhan, Da’i, dan Nopriansah baru saja dimulai. Dengan semangat yang masih membara, mereka berjanji akan terus mengasah kemampuan, membawa cahaya Al-Qur’an ke jenjang yang lebih tinggi lagi.