Difabel Netra Manfaatkan Teknologi AI untuk Optimalisasi Ibadah Ramadan
Sumber Foto: Teras.id
Sosial

Difabel Netra Manfaatkan Teknologi AI untuk Optimalisasi Ibadah Ramadan

Pada 2023–2024, ketika ia belum sepenuhnya menguasai teknologi asistif dan Artificial Intelligence (AI), akses dan peluangnya untuk memaksimalkan Ramadan belum berjalan optimal. Gawai yang dimilikinya saat itu baru sebatas digunakan untuk memesan ojek daring, menulis, dan mengakses media sosial. Namun, produktivitasnya meningkat ketika ia mulai memanfaatkan AI.

“Bahkan saya kerap mendiskusikan ide dan kekurangan garapan tulisan dan karya yang saya buat. Bisa dibilang lebih mudah untuk produktif,” katanya, kepada Solidernews, 19 Februari 2026.

Dengan bantuan perangkat tersebut, ia mengakses beragam kebutuhan, mulai dari materi kajian Islami hingga informasi penunjang ibadah. Teknologi, kata dia, bukan sekadar alat bantu, melainkan jembatan yang membuka ruang partisipasi lebih luas.

“Ramadan ini tentu saya menggunakan beberapa teknologi, baik yang berbasis AI maupun teknologi asistif seperti pembaca layar dan BeMyEyes, untuk menunjang aktivitas selama Ramadan,” ujarnya.

Ariantono kerap menggunakan fitur Gemini Live untuk menanyakan jadwal imsak dan berbuka puasa. Tidak jarang, dia juga menyetel alarm dengan bantuan AI tersebut, untuk dibangunkan sahur. “Kadang pakai Gemini, GPT, Copilot, dan beberapa AI. Tapi yang cepat, untuk tanya-tanya soal waktu dan sejenisnya, aku lebih sering pakai Gemini Live,” kata pria berusia 23 tahun itu.

Teknologi yang Membantu Berbagai Ibadah

Ramadan bagi Muhammad Satriawan bukan sekadar momentum ibadah personal. Pria berusia 35 tahun, difabel netra yang juga seorang guru computer di MAN 2 Sleman, Yogyakarta, itu menjadikan Ramadan sebagai ruang untuk bersosialisasi dan berpartisipasi di tengah masyarakat.

Ia pun berperan aktif dalam kegiatan keagamaan di kampung tempat tinggalnya di Gambiran, Yogyakarta, termasuk menjadi imam dan pengisi kultum tarawih, ikut tadarus, dan kegiatan Ramadan Lainnya. “Saat menyiapkan materi kultum tarawih, saya menggunakan laptop yang terpasang pembaca layar. Kemudian mencari materi online, baik itu dari kitab, ataupun website yang terpercaya memberi alternatif materi kultum,” katanya, saat dihubungi Solidernews, 20 Februari 2026.

Bagi Satriawan, gawai menjadi medium alternatif yang menjaga kontinuitas ibadah. Ketika berada di ruang-ruang publik dan tidak membawa Al-Quran braille, seperti saat berada di Trans Jogja, dia memanfaatkan aplikasi Al-Quran Indonesia yang dapat diunduh di PlayStore. ”Tinggal pakai earphone, saya bisa memilih mana surat yang ingin saya dengarkan. Dan ini sudah ramah pembaca layar,” kata dia menjelaskan.

Ariantono Putra juga menggunakan Al-Quran digital pen yang dapat mengeluarkan suara. Alat ini bekerja dengan sistem pemindai pada mushaf khusus yang telah dilengkapi kode tertentu; ketika pena disentuhkan ke teks, perangkat akan membacakan ayat melalui suara.

Berbeda dengan mushaf braille yang mengandalkan rabaan, digital pen menghadirkan keluaran audio, bahkan pada sejumlah produk dilengkapi pilihan qari dan terjemahan. Ukurannya yang relatif ringkas membuat perangkat ini praktis dibawa bepergian.

“Ya, modelnya Al-Qur’an, seperti buku dan relatif kecil, lalu ada pen yang di ujungnya terdapat sensor, kita tinggal arahkan ke surat, ayat, dan qqari, maka akan keluar bunyi murotal yang diinginkan baik didengarkan melalui earphone atau loadspeaker,” katanya.

Kajian Online dengan Pembaca Layar

Kajian online turut menjadi menu yang dicari oleh difabel netra, baik melalui media digital maupun kanal YouTube. Dengan pembaca layar di gawai atau laptop, navigasi antarmuka di layar aplikasi dapat dijalankan dengan baik.

Ariantono menjelaskan bahwa cara kerja pembaca layar adalah mengubah informasi visual yang tampil di laptop maupun gawai—seperti teks, aplikasi, tombol, serta berbagai elemen antarmuka—menjadi informasi berbasis suara. Dengan bantuan navigasi sederhana, seperti usap ke kanan, kiri, atas, atau bawah, serta ketukan pada layar, seluruh fitur dan konten dapat dijelajahi secara mandiri.

“Kalau di laptop, kuncinya ada pada navigasi dengan teknik keyboarding. Jadi, seluruh navigasi dan perintah dijalankan melalui kombinasi tombol pada keyboard. Di sini, kemampuan mengetik sepuluh jari menjadi kunci utama,” ujarnya.

Dengan bantuan pembaca layar, ia kerap menelusuri informasi kajian ilmiah melalui unggahan Instagram. Ketika menemukan topik yang dirasa menarik, ia berupaya hadir langsung ke lokasi kajian tersebut. Masjid Sunan Kalijaga, kata dia, menjadi masjid yang kerap membagikan pamflet jadwal kajian, terutama selama Ramadan.

Selain itu, ia juga sering mengikuti kajian di kanal YouTube, baik yang disiarkan langsung atau yang berbentuk konten podcast. Menurut dia, mencari ilmu itu mudah di era teknologi sekarang apalagi kalau menguasai teknologi pembaca layar.

“Misal kajian dari siaran langsung kanal Masjid Jendral Sudirman dan Masjid UIN. Lalu, misal konten dari acara Login atau konten di kanal Jedanulis,” kata penggemar Habib Husein bin Ja'far Al Hadar itu.

Sementara itu, Fanza Fauzan, 23 tahun, difabel netra yang menjadi takmir di Masjid Baitussalam Manggungsari, Jalan Kaliurang KM 6, Yogyakarta, kerap mengadakan tadarus online dengan konsep siaran langsung di akun media sosialnya. Kegiatan ini bermula rasa ingin berbagi ilmu tilawah yang kemudian berlanjut pada tadarus Al-Qur’an lewat akun Tiktok.

“Ya, seusai salat tarawih saya melakukan tadarus Al-Qur’an lewat siaran langsung Tiktok. Semua saya lakukan secara mandiri dengan berbagai alat,” ujarnya, saat dihubungi Solidernews, 20 Februari 2026.

Dengan memanfaatkan gawai, holder handphone, dan headphone, Fanza dapat melakukan siaran langsung secara mandiri. Gawai yang telah terpasang pembaca layar TalkBack memungkinkan bagi dia untuk mengoperasikan fitur siaran langsung di TikTok tanpa bantuan orang lain, tinggal menyesuaikan wajah dan posisi tubuh dengan kamera gawai di meja. “Tiktok sudah ramah untuk pembaca layar kok bila ingin siaran langsung. Dengan Talkback semua dapat dijelajahi,” ujarnya.

Selain itu, bagi Muhammad Satriawan, Ramadan tetaplah momen penting untuk berkontribusi, berbagi, dan saling memberi manfaat. Kehadiran teknologi menjadi salah satu instrumen penting dalam kemandirian dan pemaksimalan pribadi difabel netra.

Pria yang aktif mengajar komputer untuk difabel netra itu, menyampaikan bahwa teknologi asistif yang ramah, baik dari sisi penggunaan maupun keterjangkauan harga, masih menjadi harapan banyak difabel netra. Di sisi lain, setiap inovasi teknologi digital—apa pun bentuknya—semestinya sejak awal menyertakan fitur aksesibilitas yang inklusif. “Dengan demikian, teknologi yang diciptakan untuk memudahkan tidak justru berubah menjadi penghalang baru yang membatasi akses dan menyulitkan masyarakat difabel dalam menggunakannya,” ujarnya.[]