Defisit APBN Februari 2026 Capai Rp 135,7 Triliun Meski Pajak Naik 30%
Sumber Foto: Liputan6.com
Ekonomi

Defisit APBN Februari 2026 Capai Rp 135,7 Triliun Meski Pajak Naik 30%

Portal News Day - Liputan6.com, Jakarta - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit sebesar Rp 135,7 triliun atau setara 0,53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga 28 Februari 2026. Defisit ini terjadi meskipun penerimaan pajak menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat di awal tahun.

“Pengumpulan pajak di dua bulan pertama tahun 2026 ini tumbuh sebesar 30 persen, baik di Januari maupun Februari, artinya stabil di sana. Dan kami pastikan itu akan stabil terus ke depan,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jumat (6/3/2026).

Secara keseluruhan, pendapatan negara hingga akhir Februari 2026 tercatat mencapai Rp 358 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target APBN sebesar Rp 3.153,6 triliun. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, penerimaan perpajakan menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 290 triliun, atau sekitar 10,8 persen dari target, serta tumbuh 20,5 persen secara tahunan.

Pemerintah menilai kinerja penerimaan negara pada awal tahun ini masih berada dalam jalur yang sesuai dengan perencanaan fiskal, meskipun tekanan belanja negara mulai meningkat.

Pajak Tumbuh Kuat, PNBP Justru Turun

Perbesar

Kementerian Keuangan mencatat penerimaan perpajakan berasal dari dua komponen utama, yakni pajak serta kepabeanan dan cukai.

Realisasi penerimaan pajak tercatat sebesar Rp 245,1 triliun, atau sekitar 10,4 persen dari target APBN, dengan pertumbuhan mencapai 30,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, penerimaan dari kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp 44,9 triliun atau sekitar 13,4 persen dari target, namun mengalami penurunan sebesar 14,7 persen.

Di sisi lain, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat mencapai Rp 68 triliun atau sekitar 14,8 persen dari target. Namun, angka tersebut mengalami penurunan sebesar 11,4 persen secara tahunan.

Meski demikian, pemerintah tetap optimistis bahwa penerimaan negara secara keseluruhan akan terus meningkat seiring dengan membaiknya aktivitas ekonomi dan stabilnya pertumbuhan penerimaan pajak.

Belanja Negara Melonjak, Pembiayaan Capai Rp 164 Triliun

Perbesar

Dari sisi pengeluaran, realisasi belanja negara hingga akhir Februari 2026 tercatat sebesar Rp 493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari target APBN sebesar Rp 3.842,7 triliun. Nilai ini meningkat signifikan hingga 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Belanja pemerintah pusat tercatat mencapai Rp 345,1 triliun atau sekitar 11 persen dari target, dengan pertumbuhan yang cukup tinggi sebesar 63,7 persen.

Adapun realisasi transfer ke daerah (TKD) tercatat sebesar Rp 147,7 triliun atau sekitar 21,3 persen dari target, meningkat 8,1 persen secara tahunan.

Dengan perkembangan tersebut, keseimbangan primer tercatat mengalami defisit sebesar Rp 35,9 triliun. Indikator ini mencerminkan kemampuan negara dalam mengelola beban utang.

Sementara itu, realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp 164,2 triliun atau sekitar 23,8 persen dari target APBN sebesar Rp 689,1 triliun.