Defisit APBN 2026 Diprediksi Melebar Rp200 Triliun Akibat Konflik Timur Tengah
Ekonomi

Defisit APBN 2026 Diprediksi Melebar Rp200 Triliun Akibat Konflik Timur Tengah

Portal News Day - Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 bisa melebar hingga Rp200 triliun akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Menurut Yusuf, dampak eskalasi konflik di Timur Tengah saat ini terhadap APBN bisa datang dari dua kanal utama, yaitu kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah.

“Keduanya memiliki konsekuensi langsung terhadap belanja negara, khususnya melalui subsidi energi dan beban pembiayaan,” katanya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Dari sisi harga minyak, jelas Yusuf, dampak konflik terhadap APBN cenderung negatif secara neto.

Kenaikan harga minyak memang akan meningkatkan pendapatan negara, terutama dari sektor migas dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), namun kenaikan belanja negara jauh lebih besar karena pemerintah harus menanggung tambahan subsidi dan kompensasi energi.

Berdasarkan simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp3,5 triliun, tetapi pada saat yang sama meningkatkan belanja negara sekitar Rp10,3 triliun.

You can share this post!