Dampak Video Pendek: Menurunnya Minat Baca Gen Z dan Bahaya Brainroot
Sumber Foto: Kompas.com
Hiburan

Dampak Video Pendek: Menurunnya Minat Baca Gen Z dan Bahaya Brainroot

SUKOHARJO, KOMPAS.com - Media sosial telah menjadi bagian besar dari kehidupan Generasi Z (Gen Z).

Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menjadi sarana utama mereka untuk hiburan, mencari informasi, hingga bersosialisasi. Namun, tidak semua konten di media sosial berdampak positif.

Dosen dan pakar hukum tata negara dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar, menyoroti fenomena ini.

Dalam Seminar Nasional bertajuk "Ekspresi Politik Gen Z di Ruang Siber" di UIN Raden Mas Said Surakarta, Kamis (22/5/2025), ia menyampaikan kekhawatirannya terhadap dominasi video pendek dalam kehidupan Gen Z.

“Gen Z sekarang banyak yang jadi penikmat video pendek. Minat bacanya menurun. Video pendek justru dianggap sebagai sarana pembelajaran,” ujar pakar yang menjadi salah satu aktor film "Dirty Vote" itu.

Bahaya kesimpulan instan dan brainroot

Zainal menjelaskan, format video pendek yang cepat dan instan membuat penonton cenderung segera menyimpulkan informasi tanpa proses berpikir mendalam.

Hal ini memunculkan gejala yang ia sebut sebagai “matinya kepakaran”, karena opini publik dibentuk oleh konten cepat tanpa referensi dan kedalaman.

Lebih jauh, konsumsi video pendek secara berlebihan juga bisa menyebabkan brainroot.

Brainroot adalah kondisi saat pikiran seseorang terus-menerus terpaku secara obsesif pada satu topik. Ini bisa mengganggu fokus dan produktivitas.

“Brainroot itu bagaimana otak bisa rusak karena terpapar video pendek yang cepat, intens, dan emosional. Lama-lama, ini bersifat adiktif,” ujar Zainal dalam acara yang diadakan oleh Prodi Pemikiran Politik Islam (PPI) Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said itu.

Ajak gen Z kembali ke inti literasi

Lenbih lanjut, Zainal mengingatkan bahwa Gen Z dan Gen X merupakan kelompok pemilih terbesar dalam Pemilu 2024, yaitu sekitar 60 persen.

Namun sayangnya, kata dia, seringkali generasi muda hanya dianggap penting saat pemilu tiba, lalu diabaikan setelahnya.

“Anak muda seringkali cuma dijadikan obyek Pemilu, bukan subyek. Setelah Pemilu selesai, para generasi muda akan ditinggalkan dan tidak dianggap penting lagi," lanjut dia.

Ketika anak muda tidak melek politik, ia mengingatkan, yang muncul hanyalah oligarki, pejabat yang hanya memperkaya dan mementingkan diri sendiri.

Untuk itu, Zainal mengajak generasi muda untuk membangkitkan kembali minat membaca dan keinginan mencari tahu lebih dalam, terutama terkait isu-isu penting seperti politik dan hukum.

“Mari bangkitkan lagi minat belajar. Bukan cuma nonton video, tapi juga mengkaji dan memahami informasi secara utuh. Itu cara untuk naik level,” pesannya.