Candi Bentar Ditetapkan sebagai Gerbang Gedung Sate, Budayawan Cirebon Apresiasi Langkah Ini
Sumber Foto: republika.co.id
Gerbang Berita

Candi Bentar Ditetapkan sebagai Gerbang Gedung Sate, Budayawan Cirebon Apresiasi Langkah Ini

Pembangunan gerbang masuk Gedung Sate di Kota Bandung kini menjadi sorotan publik setelah candi bentar digunakan sebagai pilar gerbang utama. Proses ini memunculkan beragam reaksi di masyarakat, termasuk di kalangan budayawan.

Beberapa pihak mengkritik penggunaan candi bentar, dengan alasan bahwa arsitektur tersebut tidak mencerminkan filosofi kesundaan yang seharusnya menjadi identitas Gedung Sate. Namun, ada juga dukungan yang mengemuka, terutama dari kalangan yang melihat candi bentar sebagai simbol kekayaan budaya Cirebon yang perlu diakui di Jawa Barat.

Dukungan dari Budayawan Cirebon

Salah satu tokoh budaya Cirebon, Raden Chaidir Susilaningrat, menyampaikan pandangannya mengenai pembangunan ini. Ia mengungkapkan rasa senangnya karena candi bentar, yang dikenal luas sebagai bagian dari budaya Cirebon, kini menjadi bagian dari wajah baru Gedung Sate.

“Saya senang, candi bentar yang sangat identik dengan budaya Cirebon, kini menjadi wajah baru Gedung Sate,” ujar Chaidir. Menurutnya, kekayaan budaya di Jawa Barat tidak hanya terbatas pada budaya Sunda, tetapi juga mencakup budaya Cirebon dan Betawi.

Budaya Cirebon dalam Sorotan

Chaidir menegaskan bahwa pembangunan candi bentar di Gedung Sate adalah langkah positif untuk menunjukkan keberagaman budaya di Jawa Barat. “Dengan adanya candi bentar di Gedung Sate, itu berarti budaya Cirebon telah diberi ruang untuk menunjukkan jati dirinya sebagai salah satu kekayaan budaya Jawa Barat,” tambahnya.

Selain candi bentar, Chaidir juga mencatat bahwa budaya Cirebon lainnya, seperti batik dengan motif mega mendung, telah diakui sebagai bagian dari kekayaan budaya Jawa Barat. Hal ini menunjukkan bahwa identitas budaya di provinsi ini sangatlah beragam dan tidak terbatas pada satu etnis atau daerah saja.

Pembangunan gerbang baru ini, meskipun menimbulkan pro dan kontra, menunjukkan adanya usaha untuk mengakomodasi dan merayakan keragaman budaya yang ada di wilayah Jawa Barat.