Brasil Dapat Menjadi Pintu Gerbang Ekonomi Indonesia ke Amerika Latin
Pada Kamis (21/10), Muhammad Habib, peneliti hubungan internasional dari Lembaga CSIS, menyatakan bahwa Brasil memiliki potensi untuk menjadi pintu gerbang strategis bagi Indonesia dalam memperluas kerja sama ekonomi di kawasan Amerika Latin. Namun, ia menekankan bahwa untuk mewujudkan potensi ini, Indonesia perlu meningkatkan investasi di sektor manufaktur Brasil dan membangun jejaring kemitraan dengan negara-negara tetangga di kawasan tersebut.
"Untuk menjadikan Brasil sebagai pintu gerbang, Indonesia perlu berinvestasi di sektor manufaktur mereka dan mengeksplorasi jejaring mitra di negara tetangga," ujar Habib.
Menurut Habib, optimalisasi hubungan ekonomi dengan Brasil memerlukan pendekatan yang komprehensif di berbagai aspek, termasuk pemahaman tentang keunggulan komparatif, regulasi, dan standar bisnis yang berlaku di Brasil. Dukungan dari pemerintah Indonesia juga dianggap penting untuk memfasilitasi pembiayaan dan ekspor ke Brasil serta kawasan Amerika Latin.
Habib menambahkan bahwa perjanjian seperti Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) dapat menjadi langkah awal dalam harmonisasi standar teknis dan non-teknis antara kedua negara.
Ia juga menggarisbawahi kesamaan kepentingan Indonesia dan Brasil dalam mendorong agenda pembangunan berkelanjutan dan konservasi hutan tropis, yang dapat menjadi dasar bagi kerja sama jangka panjang. Selain itu, kedua negara memiliki potensi untuk memperkuat kolaborasi dalam bidang ketahanan pangan, seiring dengan upaya Indonesia untuk menjadi lumbung pangan dunia.
"Kita berharap Indonesia dan Brasil dapat menjadi kontributor bagi dana atau bantuan pembangunan, mengisi kekosongan yang ditinggalkan negara-negara maju," kata Habib.
Kesepakatan untuk Meningkatkan Hubungan Ekonomi
Dalam konteks memperkuat hubungan ekonomi, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva telah sepakat untuk bekerja sama lebih erat. Prabowo menyatakan bahwa Indonesia dan Brasil memiliki posisi setara sebagai kekuatan ekonomi baru di Global Selatan.
"Untuk meningkatkan perdagangan dengan Amerika Latin, termasuk Brasil, Indonesia sedang mendorong kesepakatan CEPA dengan kelompok negara Amerika Selatan, Mercosur. Kami mendapatkan dukungan dari Brasil yang saat ini menjabat sebagai Presiden Mercosur," ungkap Prabowo.
Data dari Kementerian Luar Negeri RI menunjukkan bahwa nilai perdagangan antara Indonesia dengan kawasan Amerika Latin dan Karibia terus meningkat. Pada tahun 2018, nilai perdagangan tercatat sebesar 7,59 miliar dolar AS, dan diprediksi akan melonjak menjadi 14,43 miliar dolar AS pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Amerika Latin memiliki potensi besar sebagai mitra ekonomi strategis bagi Indonesia.




