Portal News Day - Pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk menjadikan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, sebagai pusat industri kedirgantaraan nasional. Langkah ini bertujuan untuk memanfaatkan peluang pasar penerbangan Asia Pasifik yang diperkirakan bernilai hampir US$138 miliar hingga tahun 2044.
Pengembangan Bandara Kertajati ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyatakan bahwa pengembangan tersebut bertujuan untuk meningkatkan aktivitas penerbangan serta membangun ekosistem industri kedirgantaraan yang terintegrasi, mulai dari perawatan pesawat hingga manufaktur.
AHY juga menyampaikan bahwa prospek industri penerbangan di Asia Pasifik sangat menjanjikan. Proyeksi dari Airbus menunjukkan bahwa nilai pasar regional aviation di kawasan ini diperkirakan mencapai hampir US$138 miliar dengan pertumbuhan lebih dari 5 persen per tahun. Asia Pasifik diharapkan menyumbang hampir 50 persen dari kebutuhan pesawat penumpang baru di seluruh dunia, yang berarti lebih dari 19.000 unit, serta meningkatkan permintaan untuk jasa maintenance, repair, and overhaul (MRO).
Pemerintah menilai Bandara Kertajati memiliki keunggulan strategis, antara lain kawasan yang luas dan konektivitas dengan koridor industri di Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Pelabuhan Patimban. Sebagai langkah awal, pemerintah merencanakan relokasi bertahap aktivitas PTDI ke Kertajati, mulai dari fasilitas MRO, dan mengembangkan kawasan tersebut menjadi pusat perakitan akhir, manufaktur komponen pesawat, serta fasilitas uji terbang. Sementara itu, fasilitas PTDI di Bandung akan tetap difokuskan untuk riset, inovasi, desain, dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan menjadikan Kertajati sebagai pusat industri dirgantara, pemerintah berharap Indonesia dapat menjadi pemain utama dalam industri aviasi regional.