Agus Taufiqurrahman: Pentingnya Pendampingan Difabel untuk Masyarakat Inklusif
Sumber Foto: Muhammadiyah
Sosial

Agus Taufiqurrahman: Pentingnya Pendampingan Difabel untuk Masyarakat Inklusif

Portal News Day - MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman menyampaikan terima kasih kepada pendamping difabel yang dengan sabar dan telaten untuk mendidik dan berkembang bersama.

Ucapan terima kasih itu disampaikan dr. Agus sebagai Ketua PP Muhammadiyah Bidang Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial, dan Resiliensi Bencana pada Ahad (15/3) dalam Ramadan Gembira Mendikdasmen di Masjid Baitut Tholibin, Jakarta.

Pendampingan yang diberikan kepada kelompok difabel, imbuhnya, selain sebagai kewajiban kemanusiaan sekaligus akan mendapatkan balasan berupa amal salih yang luar biasa dari Allah Swt.

“Amal salih yang Nabi menghargai – menolong saudara kita yang membutuhkan pertolongan itu lebih dicintai daripada itikaf di masjid sebulan penuh,” katanya.

Oleh karena itu, menurut dr. Agus mendampingi kelompok difabel merupakan amalan yang dicintai oleh Nabi Muhammad Saw. Dalam sejarah Nabi Muhammad juga memiliki sahabat yang difabel.

Bahkan Nabi Muhammad pernah memberikan kepercayaan kepada Ibnu Ummi Maktum sebagai muazin, dan pernah dipercaya sebagai imam salat beberapa kali ketika Nabi Muhammad pergi berperang.

Selain Ibnu Ummi Maktum, sahabat nabi yang difabel adalah Amr bin Al Jamuh seorang difabel daksa. Nabi Muhammad memperlakukan mereka dengan adil, penuh penghormatan, kasih sayang, dan kesetaraan.

“Dan kepada bapak ibu pendamping sekali lagi kita haturkan terima kasih. Semoga amal yang bapak ibu lakukan menjadi amal salih yang tidak ada hentinya,” katanya.

Dokter Spesialis Saraf ini juga menyampaikan terima kasih kepada Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS), Kemendikdasmen, BPKH, Mitra Baznas, dan lain-lain yang mendukung suksesnya acara Ramadan Gembira ini.

Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bersama yang inklusif, bahwa akses untuk memajukan umat dan bangsa harus setara – tidak boleh hanya maju sebagian namun yang lain ditinggalkan.